nationalhymne

by livergirl


Because of the topic, I think it’s better to write in Indo. Might be weird, though. I’m not used to write in Indo anymore, somehow.

.

Saya punya ketertarikan dengan lagu nasional. Sampai-sampai saya punya satu album berisi European national anthems. Setiap saya menonton pertandingan sepakbola internasional, sebisa mungkin saya ingin mendengar lagu nasional itu diputar dan melihat wajah-wajah pemain yang menyanyikannya. Rasanya senang melihat rasa cinta negara itu terpasang di wajah mereka. (Karena itulah saya sungguh menentang dipotongnya adegan itu oleh iklan Visa di singtel mio -.-“)

Seketika saya berpikir tentang Indonesia Raya. Terbayang ketika beberapa tahun lalu saya masih ikut serta memainkan lagu ini di upacara. Terbayang belasan tahun yang lalu ketika upacara di SD setiap senin. Dan satu kata yang terlintas: panjang! Rasanya kok lagu-lagu lain cepat sekali dibandingkan Indonesia Raya. Dan mulailah saya mencari dengan membuka 2 tab untuk youtube dan wikipedia.

Durasi
Semua lagu yang ada di album saya itu (Austria, Belgia, Siprus, Denmark (2), Prancis, Jerman, Yunani, Islandia, Irlandia, Italia, Luksemburg, Malta, Norwegia, Swedia, Belanda, Turki, Inggris) berdurasi dari 0:57 sampai 1:39 dengan perkecualian Irlandia (2:02).

Menurut youtube, durasi Indonesia Raya juga sekitar 2 menit, yang berarti hipotesis saya tidak terbukti. Tetapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman, nampaknya pernyataan saya bisa lebih tepat dalam konteks saat upacara bendera. Ketika saya melihat versi yang diputar di stadium sebelum pertandingan, yang dominan adalah musiknya. Sedangkan ketika di upacara bendera, rasanya suara vokal orang-orang yang bernyanyi lebih diutamakan. Dan tampaknya, orang Indo punya tendensi untuk melambatkan tempo saat bernyanyi. (Saat di stadium pun, suara vokal lebih terlambat dibanding suara musik).

Jujur, saya suka versi ini. Lebih cepat tapi orkestranya megah. Dengan beberapa penyempurnaan (kalimat terakhir lebih diaksen, refrein sedikit lebih lambat), seharusnya versi ini bisa jadi ideal.

Dan ternyata, menurut situs ini, Uruguay punya lagu nasional yang paling panjang (sekitar 5 menit…tampaknya mereka menyanyikan semua baitnya sekaligus). Untungnya mereka punya versi yang jauh lebih pendek yang digunakan sebelum setiap pertandingan. Lagu mereka sangat menarik: ada intro sekitar 1 menit (menurut saya lebih bagus daripada Italia) yang sangat membangun mood sebelum liriknya dinyanyikan.

Lirik
Deutschlandlied punya 8 baris (10 karena 2 baris terakhir diulang). “Het Wilhelmus” juga mengandung 8 baris. “God Save the Queen” ada 7 baris saja. “Kimigayo” bahkan hanya 5 baris. “The Star Spangled Banner” mengandung 8 baris (meskipun panjang. Mungkin bisa dihitung 12-16 baris). “La Marseillaise” ada 13 baris.

Indonesia Raya punya 20 baris -.-”

Jangan tanya Uruguay (versi asli) punya berapa baris.

.

Melihat-lihat beberapa situs forum Indo, saya jadi mengetahui tentang kasus Rio Febrian yang menyanyikan versi lain dari Indonesia Raya tahun lalu. Saya mencoba mencari audio/visualnya tetapi tidak tersedia. Ada yang punya? I would love to see it.

Dan tentu, saya jadi melihat beberapa perdebatan soal ini (sampai melihat PP 44/1958 tentang lagu kebangsaan). Dan membuat saya makin bingung dengan orang Indo. Tentu, lagu kebangsaan tidak bisa seenaknya diubah dan dipergunakan, namun jika dilakukan dengan hati-hati dan pengawasan ketat, kenapa tidak? Indonesia sudah melahirkan banyak musisi yang berbakat dan punya hati untuk Indonesia. Lagu nasional Uruguay saja (yang sudah seperti simfoni) dipotong sampai tinggal sekitar 30%nya.

Saya rindu saat ketika Indonesia raya bisa membuat saya terpesona dan merinding seperti ketika “Brüderlich mit Herz und Hand” atau “Marchons, marchons!” atau “Send her victorious, happy and glorious” atau “Sabremos cumplir!” atau (I can’t believe it) “Fratelli d’Italia, l’italia s’e desta” atau “the home of the brave”. Saya rindu dan menanti saat saya bisa terharu seperti Jong Tae-Se saat lagu nasional saya diperdengarkan (dan saya mudah sekali menangis).

Bukan berarti saya tidak suka lagu nasional saya sendiri, tapi entahlah. Pasti bukan karena saya sudah bosan mendengarnya (karena entah sudah berapa tahun saya tidak mendengar lagu itu saat upacara). Atau mungkin sudah lama saya tidak melihat Indonesia berprestasi yang sampai lagu nasional dibunyikan. Atau mungkin saya bosan dengan aransemen yang itu itu saja.

Jujur saya tidak tahu kenapa saya menulis ini, dan menulis dalam Indo membuat saya agak bingung mau mengembangkan arah tulisan ini.

So anyway, it’s just a random thought of mine while thinking about the past month of World Cup. It’s really touching to see all the players, and the officials, and the fans all singing together. Uruguay was awesome, but imo, the Mexicans are the best with their gesture. Love the way the English sung, also. If I were an English I would be so touched to see Beckham and (I can’t believe it either) John Terry sung the last sentence wholeheartedly. The music of Deutschlandlied always gives me shivers. Bravo, Hadyn. A pity for Spain they didn’t have national anthem lyrics although their tune is wonderful. They should have it, imo. It makes the song much more meaningful.

Back to youtube now…listening to other anthems…