Fenster zur Seele
“Mata adalah jendela jiwa” kayaknya uda sering banget didenger dimana-mana. Gatau itu kalimat asalnya dari mana, tapi belakangan ini gue suka mikir tentang jendela menjendela ini. Soalnya menurut gue, that’s very true.
Sempet baca beberapa artikel juga di internet soal ini. Ada sebuah post bagus yang menuliskan analogi mata dengan rumah dan beberapa reference dari ayat Alkitab, khususnya Amsal. Recommended.
Gue suka punya masalah dengan melihat orang eye-to-eye. Dan jujur gue in general kadang gasuka diliat langsung ke mata. It’s like…melanggar privasi. Orang bisa gampang boong dengan kata-kata, dengan perbuatan, dengan body language, dengan gesture, tapi menurut gue sorot mata itu bener-bener menggambarkan perasaan orang, at least gue (makanya untung juga ya mata cina sipit, lebih susah donk nebaknya
). Orang bisa aja tersenyum meskipun hatinya berdarah-darah, tapi sorot matanya pasti beda dengan yang bener-bener bahagia dari hati. Jadi ya of course, gue nggak mau sembarang orang tau perasaan gue lah. Only the ones I trust.
Ya jadi cuma mau bilang, kalo gue nggak ngeliat eye-to-eye saat ngomong, please don’t be offended. Ini emang masalah gue, dan ke-introvert-an gue yang suka lebay. Ini cuma gue aja yang bener-bener nggak mau orang lain tahu masalah gue, perasaan gue.
.
~just a rubbish talk with myself in my head~
pantes gw sama lo kaya susah gitu eye contact cok
Posted 7 months, 2 weeks agoiye kyknya mah gw susah eye contact sama siapapun
Posted 7 months, 2 weeks agoama gw apalagi, kendala fisik ya
Posted 7 months, 2 weeks ago