3 hari untuk slamanya
Ini bukan tentang lagu itu. I’m not gonna write down the lyric. Ini tentang tanggal 26, 27, dan 28 Desember. Ada kekecewaan dan berlimpah kebahagiaan. Tak lupa kurang tidur tapi banyak cerita. Mungkin nggak untuk selamanya, tapi tampaknya untuk waktu yang lama.
26 Desember
Hari ini adalah TC terakhir sebelum mereka bertanding di semifinal. Hari sebelumnya, pas hari natal, mereka gladiresik di Istora Senayan. Menurut gue, mereka udah oke, meskipun belum menunjukkan performance seperti permainan terbaik mereka tanggal 23 malam. Walaupun begitu, gue tetap optimis, seoptimis ketika gue pertama kali melihat permainan mereka dan terpesona.
Malam ini mereka akan menginap di sekolah sampai final. Gue memutuskan untuk ikut menginap bareng mereka. Alasannya sih mau membantu membalut stick dan mallet anak battery. Gue pernah melalui dua kali malam sebelum itu dan dua-duanya kita tidur telat gara-gara membalut stick itu. I want to make sure that they all have their beauty sleep before the day. Well, itu nggak semua, sih. Yang jelas gue pengen memastikan mereka oke sebelum the big day. Yah, meskipun nggak banyak yang bisa gue lakukan.
Me and my two bffs yang juga masih mencintai band ini tidur jam setengah 2 pagi di panggung aula lantai 3. Membuka balutan selotip yang sudah rusak yang melilit di semua stick dan mallet anak battery, melilitkan selotip yang baru, menggosokkan alkohol agar tidak lengket, membalutkan lapisan kedua jika perlu, dan menjaga supaya tangan kita yang lengket tidak mengotori lapisan yang baru.
Mungkin simpel, tapi leher dan bahu kita pegel-pegel juga setelah membalut 34 pasang mallet dan stick. Belum lagi tangan yang kebas dan mata yang lelah karena membalut itu juga ada caranya dan tidak boleh salah. Tidur di lantai kayu beralaskan bedcover, tanpa bantal, dan selimut dipakai berdua jadi cuma kaki yang terlindung dari dingin.
27 Desember
It’s the big day! Anak-anak guard dan pit plus dua field commander bangun jam 3 pagi untuk ditata rambut dan make-up gara-gara kita mendapat urutan pertama main (jam 9). Anak-anak yang lain bangun sedikit lebih telat, sekitar jam setengah 4. Kita bertiga bangun jam 4 lewat, luarbiasa capek dan ngantuk, tapi memaksakan diri berjalan ke kamar mandi yang sudah sepi karena semua anak sudah selesai mandi. Airnya dingin banget, kantuk langsung hilang, dan gue mendapati bibir gue ungu ketika kelar mandi.
Sekitar jam setengah 7 kita berangkat ke Istora. Disitu masih sepi. Kita band pertama yang datang, nampaknya. Kami para alumni lebih banyak santai dan mengobrol saat mereka pemanasan dan baru bekerja setelah diperintahkan untuk bersiap-siap.
Masalah mulai datang. Sekelompok orang yang gue assign untuk membawa timpani ternyata tidak datang hari ini. Rasanya mau meledak marah. At least gue mengharapkan mereka bilang dulu sebelumnya sama gue. Untung pelatih gue baik dan dia meminta orang-orang lain untuk bertugas. Moreover, gue suka agak sebel sama pembina dan orang tua yang selalu bilang mau membantu tapi suka seenaknya. Membawa alat yang bukan tugas mereka, bergerak maju sebelum gilirannya, dan bahkan ikut eksis di lorong menjelang march-in di barisan depan. Gue cuma nggak mau para junior crew bingung, dan lebih nggak mau lagi kalau ada alat yang tertinggal.
Pada akhirnya, semua alat telah dimasukkan ke lapangan. Panik sebentar ketika ternyata susunan alat tersebut terlalu ke kiri dan susunan hi-hat dan snare drum yang terbalik. Tapi thanks God, semua berjalan baik.
Permainan mereka hari ini bagus, seperti biasanya dan seperti seharusnya, tapi somehow gue merasa kering. Nggak ada jiwa. Menggetarkan tapi nggak membuat gue terguncang. Seperti nggak connected. Tapi mungkin aja ini karena gelombang kepanikan yang terus menerus. Takut alat nggak beres, takut solo kurang bagus, takut anak cymball nggak nyampe tempatnya pada waktunya, takut anak guard menabrak anak mellophone saat mereka menyelip dengan cepat, takut percussion feature berantakan, takut riffle dan sabre nggak ketangkep saat mereka memutar tinggi 5 putaran, takut ada guard yang nggak dapet bendera, dan banyak lagi ketakutan yang lain. Sepanjang hampir dua belas menit mereka bermain, kita deg-degan nggak karuan.
Mereka keluar dengan campuran rasa takut kalau-kalau mereka bermain kurang bagus dan mendapat hasil yang tidak memuaskan. Kami pergi ke mereka, memeluk and tell them that everything will be alright, and they will definitely make it to the final. Yah gue juga bilang pendapat gue ke mereka kalau kurang ada jiwanya, tapi gue tetep optimis dan gue mau mereka juga tetap optimis kalau mereka bisa mencapai target utama kita.
Sehabis itu, kami kembali TC di sunter. Suasana lebih santai karena semua orang capek jadi hanya memperbaiki beberapa bagian, seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka sempat main satu set disitu, dan menurut gue, nampaknya ini lebih baik daripada permainan mereka di Istora. Yah mungkin mereka hanya belum panas, atau mungkin kali ini tension nya nggak sebesar itu.
Malam ini kembali menginap di sekolah, with my two bffs (yang satu pulang digantikan yang lain), dan seorang alumni satu angkatan diatas kita yang luarbiasa berdedikasi pada band ini. Again, banyak canda dan cerita, serta sorakan dan pelukan kebahagiaan saat mereka mendengar bahwa PSUMB menempati urutan pertama babak penyisihan. Dada ini rasanya sesak akan rasa bangga pada mereka. Kembali tidur di lantai kayu beralas bedcover.
28 Desember
So this is the final. The climax. At the end of this day, we will say goodbyes and see-you-again-next-years. We will finish this tiring journey, and we want to end it with joy, pride, and satisfaction. We want to smile, laugh, and cry in happiness tonight. Inilah hari dimana mereka, dan juga kita, harus mengerahkan segala tenaga, akal, dan hati untuk mencapai yang terbaik.
Bangun subuh lagi, tapi harus menunggu giliran mandi karena anak-anak bangun lebih siang (sebagai peringkat pertama, mereka main terakhir, jam 10.50am). Suasana ceria, tapi atmosfer ketegangan itu tak bisa disembunyikan, karena beda nilai dengan peringkat kedua cukup tipis dan mungkin saja mereka bisa mengalahkan kita.
Kembali para alumni lebih banyak bersantai ketika mereka pemanasan. Ketika mulai bergerak memindahkan alat untuk mengantri march in, gue lebih bisa sabar saat masalah reguler muncul, thanks God. Satu-satunya hal major yang merusak mood gue berjam-jam kemudian adalah kemunculan satu alumni.
Kenapa kita marah? Well dia tiba-tiba masuk ke barisan crew pit dan memaksa untuk membantu membawa. Gue nggak bisa mempercayai orang macam itu untuk memegang alat-alat PSUMB dan gue udah bilang explicitly nggak tanpa keraguan, dan dua temen gue juga dengan bercanda ngusir dia. Tahu apa yang terjadi? Dia malahan ikut dengan pelatih untuk menampar anak-anak (ini suatu tradisi pelatih kami untuk menampar semua anak sebelum event besar. Katanya sih biar panas). Entah dia berasa pelatih atau apa, mengingat dia baru datang di babak final. She didn’t even show up at our TCs or our rehearsal. Kalau mau lebih kejam, she wasn’t that good when she was still a player. Dia masuk kelas 3 SMP, gosipnya sih biar lebih mudah untuk masuk SMA (yang gue cukup yakini). Selama di PSUMB, dia juga cuma banyak omong, berasa dekat dengan pelatih (betapa gue berharap para pelatih itu cuma pura-pura meladeni dia). Selanjutnya, dia tetap memaksa ikut masuk dan duduk seperti para crew meskipun kami sudah melindungi alat yang kami bawa rapat-rapat.
Selama mereka bermain, mood gue masih luarbiasa jelek, dan gue nggak bisa mengarahkan hati gue untuk fokus dan menikmati performance mereka. Hari ini ada dua anak guard yang nggak dapet bendera. Untungnya, salah satu anak sungguh luarbiasa. Tak sekalipun senyum gembira lepas dari wajahnya. Tak sedikitpun bahasa tubuhnya mengatakan dia takut, tegang, marah, dan sedih. Dia tetap menari dan menyelesaikan bagian itu dengan sempurna.
Begitu mereka semua keluar lapangan, kami berlarian untuk membawa keluar alat-alat. Guess what? Si alumni sial itu masuk dan mengambil satu alat untuk dibawa keluar dengan seenaknya. Kembali gejolak kemarahan menguasai gue, tapi kita harus bergerak cepat, tak ada waktu untuk bertengkar dan toh sehabis ini gue nggak ada urusan dengannya.
Kali ini rasa cemas tetap mewarnai wajah anak-anak battery yang keluar dari lapangan. Agak beda dengan dua tahun lalu ketika gue keluar dari lapangan dengan air mata bahagia karena sudah melalui masa-masa neraka itu. Gue nggak banyak memberi pendapat kepada mereka, karena gue ngerasa penilaian gue juga terlalu terkontaminasi. Gue cuma bisa berdoa untuk yang terbaik. Buat gue, menang ataupun kalah tidak masalah. Gue cuma ingin mereka bahagia dan puas dengan apa yang sudah mereka kerjakan. Gue nggak akan tahan melihat mereka bersedih dan kecewa.
Sehabis mereka main ada break, setelah itu babak final divisi umum. Gue nonton berdelapan. Band-band awal (band yang menduduki peringkat bawah) kayaknya sudah habis kita cerca dan hina (bahasa halusnya: kritik) habis-habisan. Ada saja yang kita bisa komentari. Sampai band peringkat keempat, gue dan teman-teman alumni masih bisa mengkritik dan menemukan cacat mereka. Tapi begitu peringkat ketiga, kedua, dan pertama, kami speechless. Nggak ada cacat yang bisa kita temukan. Kita terpesona melihat apa yang bisa ditampilkan dari sebuah marching band. Bayangkan saja, band peringkat pertama memainkan Bohemian Rhapsody sebagai pemanasan. Gosh, mereka memainkannya lebih bagus dari kebanyakan finale band-band lain. Coba saja pikirkan betapa bagusnya permainan inti mereka.
Setelah semua band selesai bermain, kami pindah ke deretan bangku VIP (tribun barat) yang sekarang sudah bebas dimasuki untuk menonton pengumuman result. Meneriakkan yel kebanggaan kami sekuat tenaga. Berseru-seru ketika spanduk kami dibawa lari berkeliling lapangan. Merasakan jantung berdegup dengan kuat ketika dewan juri akhirnya datang dan mengumumkan hasilnya.
Yang pertama diumumkan adalah juara favorit. Tentu saja, PSUMB menang karena ini ditentukan oleh polling SMS. Komunitas Santa Ursula sudah dikenal heboh untuk soal seperti ini. Gue cuma mengecek beberapa kali posisi sementara. Selalu kita peringkat atas, jadi kita tidak perlu sms
Next, pengumuman solo dan duet. Tahun ini, penilaian untuk solo dan duet dilakukan terpisah, jadi mereka yang solo/duet harus memainkan bagian mereka sendiri, terlepas dari anggota band yang lain. PSUMB sama sekali tidak ikut, jadi kami bisa sedikit lega dan menarik nafas, bahkan tertawa terbahak-bahak ketika ada band yang mendapat banyak medali tapi tidak mengirimkan perwakilannya. Jadi seorang official GPMB selalu maju dan mendapat 13 medali dikalungkan di lehernya
Untuk kategori best field commander, gue optimis, sangat optimis bahwa kita akan dapat piala itu. Field commander kami luarbiasa, dan benar kami mendapat gelar itu. Horn line juga mendapat peringkat pertama, namun percussion dan guard line menempati peringkat ketiga. Seperti yang udah gue bilang, gue nggak masalah kalaupun percussion nggak dapet piala sekalipun. Buat gue mereka hebat. Tapi gue nggak tahan melihat staf yang ditunjuk untuk menerima piala itu. Dia dulu junior gue, sekarang dia paling senior dan pemimpin anak battery. Buat dia peringkat ketiga pastilah sebuah kegagalan.
Kita mendapat peringkat pertama dalam Display & Showmanship serta General Effect. Gue sungguh respek ketika salah seorang pelatih menegaskan bahwa meskipun percussion dan guard mendapat peringkat ketiga, tapi peringkat pertama General Effect membuktikan bahwa kerjasama yang terjalin antara ketiga section berjalan dengan sangat baik.
Peringkat keempat sampai sepuluh untuk divisi umum dibacakan, sehingga semua orang tahu 3 besar dari tiap divisi. Inilah saat yang paling menegangkan, ditambah lagi pengumumannya disampaikan sedemikian sehingga rasa tegang itu makin memuncak..
Barisan PSUMB bersorak gembira ketika peringkat kedua divisi sekolah dibacakan dan itu bukanlah kita. Jadi sudah bisa dipastikan kalau kita mendapat peringkat pertama. Kita berteriak-teriak, berpelukan, melonjak-lonjak, dan semuanya.
Tapi yang paling gila adalah ketika kami lari ke lapangan dan membaur dengan para staf serta pemain-pemain yang lain. Rasanya seperti berada di lautan kebahagiaan yang berombak terus-menerus. Tak ada yang lebih membahagiakan melihat mereka begitu gembira. Mereka yang dulu masih bodoh, yang kami latih, yang kami marahi ketika mereka terus membuat salah, sekarang telah menjadi seorang juara. Kami menangis sesenggukan, terharu dan bahagia, memeluk mereka semua dengan erat dan mengucapkan selamat.
…
Dan sekarang here I am, tanggal 29 siang. Mata bengkak karena menangis dan tubuh lelah yang tak dapat dipulihkan dengan sepuluh jam tidur, tapi dengan kebahagiaan, dan bangga luar biasa. Bangga pada mereka, dan bangga kalau gue pernah menjadi bagian dari mereka.
Congratulations, and thank you for giving me the inspiration to face the year ahead. Love you all
.
GO GO GO
FIGHT FIGHT FIGHT
WIN WIN WIN
GO FIGHT WIN
WE GOTTA GO GO GO, SANUR GO
WE GOTTA FIGHT FIGHT FIGHT, SANUR FIGHT
WE GOTTA WIN WIN WIN, SANUR WIN
GO...FIGHT...WIN...YEAH!!!
have yourself a merry little christmas
Christmas
only 9 letters
only one day in a year
yet
it’s the reason for us
to give thanks
to celebrate
to spread His love
to evangelize
to glorify Him
to have faith
to live
because Jesus Christ our saviour has come
merry Christmas all
why am I doing this?
Maksud gue, ngapain gue sampe segitunya ngurusin PSUMB? Ngapain gue tiap hari jauh-jauh ke cibubur nonton mereka TC dan repot ngurusin transportnya? Ngapain gue pusing-pusing ngatur kru pit yang lengkap ada alumni, junior, pembina, POTA (orang tua), plus pelatih (plus junior yang nggak bisa dipercaya, alumni yang jumlahnya ga konstan, dan pelatih yang nggak mau bawa alat berat di belakang)? Ngapain gue susah-susah ngafalin susunan pit ensemble di depan lapangan? Ngapain gue bantuin ngajarin anak battery? Ngapain gue keliling-keliling jakarta nyariin selotip buat stick mereka? Ngapain sampe gue berniat nginep di sekolah bareng mereka dan bangun subuh-subuh? Tambahan lagi, ngapain gue sampe merelakan hari natal gue dipake untuk gladiresik sampe malem?
Well, gue nggak tahu pasti. Mungkin karena gue kangen pengen ngumpul-ngumpul sama temen-temen alumni. Mungkin karena gue pengen memastikan semuanya beres setelah gue tinggal. Mungkin kesombongan gue sebagai senior ingin melihat seperti apa mereka sekarang.
Tapi mungkin, itu karena cinta. Gue cinta dan bangga banget sama korps ini. Performance-nya, capeknya, ngeselinnya, dan terutama, semangat dan friendship-nya. Segitu bangganya sampe gue selalu pake jaket MB di belantara NTU. Segitu cintanya sampe gue suka kebayang-bayang dua GPMB yang gue laluin dulu (dan selalu merinding). Dan gue pengen banget buat ngasih sesuatu dan bantuin mereka, sebisa gue.
Natal bukan masalah ke gereja ato nggak. Itu bukan arti sebenarnya. Natal itu tentang apa yang bisa kita lakukan buat Tuhan dan sesama. Buat gue, ini sebagai ungkapan syukur sama Tuhan yang pernah menghadirkan mereka selama enam tahun hidup gue.
Gue belum pernah ngalamin kayak gitu lagi. Di NTU, meskipun gue suka dan bersyukur banget atas ISCF, tapi gue nggak ngerasa ikatan seperti dengan PSUMB. Oke memang kita menghadapi cobaan bareng, misalnya exam, tapi kita nggak melakukan itu bersama. Kita cuma melakukannya di saat yang sama, tapi kita nggak membuat sesuatu bersama. Di PSUMB, kita capek, dimaki-maki, marah, pegel-pegel, ketawa-ketawa bareng.
Yah, mungkin akan gue rasakan seperti itu lagi saat gue mulai harus bikin project berkelompok…atau saat gue ambil HRM. Damn uda tinggal 4 semester lagi dan gue harus ambil
tc
Selalu. Training Camp (TC) selalu penuh memori. Entah itu adalah kenangan lama yang kami ceritakan kembali, ataupun itu berupa kejadian-kejadian yang terjadi hari itu.
Alat-alat musik yang telah lama ditinggalkan, gambar display yang telah lama dilupakan, musik yang mungkin sudah terdengar agak asing di telinga. Tak lupa perasaan itu. Campuran excited, tegang, capek, marah, tapi pada saat yang sama, menikmati itu semua. Sebuah perasaan yang masih terekam jelas di otakku yang terbatas. Aku rindu itu semua.
Aku rindu saat-saat di lorong menjelang masuk ke lapangan. Tegang dan takut, yang berusaha kusembunyikan demi para juniorku. Tarik nafas dalam-dalam, berusaha mengabaikan rasa ngilu di gigi dan tangan yang mulai mendingin. Aku rindu itu semua.
Tapi aku tahu aku tak akan bisa menikmatinya lagi.
.
Kali ini aku bukan pemain. Kami hanya bertugas membantu. Menyiapkan jalan untuk mereka. Memastikan segala persiapan di lapangan berjalan dengan lancar. Mengkoordinir yang lain agar semua bisa terlaksana dengan baik.
Kali ini aku hanya duduk di pinggir lapangan. Mengamati, namun tak berdaya ketika mereka berbuat salah. Memandang dengan miris ketika barisan yang seharusnya lurus menjadi seperti itu. Hanya bisa bersorak, menyemangati dengan sepenuh hati.
Berharap mereka bermain dengan sepenuh hati juga.
.
Can’t wait for 27th and 28th Dec
satelit
dalam tata suryaku, dialah sang matahari
menghangatkan, menyinari
membuat hidupku berputar setiap hari
memberiku semangat untuk tersenyum tak henti
dia bintang terang yang bersinar senantiasa
untukku dan untuk semua benda angkasa
bukan salahnya jika aku terpesona
mungkin sinarnya terlampau terang menembus jiwa
untuknya, aku hanya sebuah satelit
atau bahkan, hanya sebuah asteroid
sesuatu yang nyata, yang baik adanya
namun tiada pengaruh untuknya
aku selalu ada
mengitari sebuah planet dalam tata suryanya
tapi aku hanyalah sebuah Ceres, sebuah Titania
yang mungkin hanya pernah diingat dalam suatu masa
beranikah aku menembus orbit,
menjadi lebih dari sekedar satelit?
the killers – human @ EMA 2008
great music and awesome visuals. what else could you possibly ask for?
do something good
So finally I’ve done something: I donated my blood. 250cc. Thanks God they didn’t reject me for my low blood pressure. My left arm got stiff for some time and I got few bruises around the injection spot, but I feel great (and a bit dizzy for a few hours). Hope my blood can help someone in need.
And because of the donation, I finally eat a portion of instant noodle, after a whole semester without it. I really wanted to skip, but I might collapse like my friend back there in Singapore.
Anyway, things are going just fine. Except that I’m extremely bored. Can’t wait for Thursday. I hope my friend hasn’t forget her words to take me to the marching band’s training camp. Missing the sound of mellophones, tubas, baritones, trumpets, and of course, the percussion line…
…
Somebody please give me an idea for my mum’s bday…
these days
not much to tell, actually. Yah gue udah sampe di Indo dengan selamat. Udah ketemu beberapa temen (kebanyakan masih sibuk kuliah sih). Udah nonton twilight. Udah baca new moon dan eclipse dalam 2 hari. Udah mulai belanja keperluan baju. Udah puas nonton TV sampe gila. Akhirnya main The Sims lagi.
Diluar itu, gue bener-bener nggak ada kerjaan. Well ga sepenuhnya bener sih, ada kerjaan welcome week dan pintu yearbook deadline minggu depan. Tapi atmosfernya bikin nggak mood buat apapun. Ini akhirnya setelah sekian lama gue mulai ngerjain tu dua kerjaan.
Agak nyesel balik Indo terlalu cepet. Seharusnya gue balik Indo pertengahan, kayak tahun lalu. Yah tapi mau gimana hidup di Singapur mahal bener…
Hopefully next weeks will be better. Mau ikutan dateng training camp MB di cibubur. Mau ke Bandung ngliat koko gue ngelamar cewenya, dan semoga ketemu temen2 Bandung juga
.
Bersyukur untuk berkat yang gue terima, especially yang kemaren. Bener-bener bikin lega dan menyelesaikan kebingungan gue. Thanks, Father
post-camp
I’ve just finished the NTU-ISCF camp 2008, as a logistic officer. Wew. Exhausted. Lack of sleep. Panda eyes everywhere. Cannot tell more abt it now, but I’ll try to write all the things He gave to me through this camp after contemplating sessions. For now, facebook is extremely crowded with ISCF peeps tagging and commenting photos of us (at least we have like a few hundreds)
God bless you to bless others,