mari merenung
Alkisah, ada seorang gadis buta.
Gadis ini membenci semua orang, termasuk dirinya sendiri. Ia merasa tidak dimengerti, ia merasa terkucil, yang dilihatnya hanyalah kegelapan.
Satu-satunya orang yang tidak dibencinya adalah kekasihnya. Pemuda yang sangat baik dan tulus, yang mau menerima kekurangan gadis itu, mau membantu dan menjaganya.
Suatu hari pemuda itu meminta kesediaan gadis itu untuk menikahinya.
Gadis itu menjawab, “Aku hanya mau menikah jika aku bisa melihat,”
.
Singkat cerita, ilmu kedokteran semakin canggih, dan kemungkinan bagi gadis itu untuk melihat bertambah besar. Maka ia pun memutuskan untuk menjalani operasi.
Operasinya berjalan dengan amat sukses, dan gadis itu bisa melihat lagi.
Pada saat ia akhirnya bisa melihat, si pemuda berkata,
“Kau sudah bisa melihat sekarang. Maukah kau menikah denganku?”
Gadis itu menengok, dan betapa terkejutnya ia, karena kekasihnya itu ternyata buta.
Ia berkata, “Tidak. Aku tidak akan pernah mau menikah dengan orang buta! Aku tahu bagaimana rasanya menjadi buta!”
Pemuda itu tertegun. Tersentak. Terluka sedemikian dalam.
Pemuda itu tak bisa berkata-kata. Ia hanya mengambil secarik kertas dan menulis,
“tolong jaga mata saya”
.
[Ilustrasi ini diberikan siang ini di akhir kotbah Pr Chandra.]
.
.
Kalau anda merasa perih ketika membaca cerita ini,
Kalau anda merasa marah dengan kelakuan si gadis
Kalau anda bisa berempati sampai anda bisa merasakan sakit hati si pemuda
coba kita renungkan
betapa kita seringkali telah menyakiti hatiNya.
Dia yang telah memberikan bukan hanya mataNya, tetapi nyawaNya.
Leave a Comment