gue berharga…and so are you
Yah, so ini adalah Enchanting Indonesia hari pertama. Banyak banget kejadian hari ini, mulai dari 2x bolak balik ke lantai 5 Takashimaya buat beliin converter colokan 3 ke 2, (dan ibu-ibu yang ngomel karena harus ngeganti duit gue), kepedesan sambel ayam penyet sampe nangis, monitor buat muter video yang nggak nyala-nyala, anak gaul singapur yang nanya-nanya diving di Makassar, delegasi Palembang yang luar biasa heboh, abang-abang Manado yang luar biasa ganteng kayak bule, dan nggak lupa performance-nya Didik Nini Thowok yang seperti biasa, dahsyat.
Tapi dari semua itu, ada satu yang paling berkesan di hati gue. Jadi gini ceritanya, waktu itu tuh udah sore, dan gue capek bediri terus di depan kipas angin depan booth SulSel, dimana gue jadi LO disitu. Udah hampir masuk angin tuh, jadi yauda gue jalan-jalan dan makan sesuatu (sotong Old Chang Kee) sambil duduk di patung singa di kiri kanan pintu masuk ke Taka. Saking capek dan ngantuknya, gue sampe ketiduran dengan nyender ke patung singa itu.
Bangun bangun, gue ngeliat booth SulSel cuma ada satu orang, dan itupun cowok yang tadi perform nari. Ya gue jadi kasian lah. Masa udah tadi nari capek-capek, sekarang disuruh ngejagain satu booth sendirian. Akhirnya gue ikut jagain meja satunya. Paling nggak gue kan bisa ngasi-ngasi brosur dan gue tau lokasi buat diving
Nah terus tau-tau dateng sepasang Singaporean gitu. Yah mungkin udah 40-50an lah. Dia enthu gitu nanya-nanya tentang SulSel. Ya gue sih nggak gitu tau jadi cuma sebagai asisten penerjemah aja. Dia juga entah kenapa kepo banget tentang keberadaan Cina peranakan (macem gue) di Indo. Dia bahkan nanya ke si cowok (namanya Rais, kalo ga salah tulis): “Are there many people like her in your province?” yang bisa diartikan: “Di tempat lo banyak orang cina nggak?”
Trus juga dia kepo tentang kehidupan kita para Chinese-Indonesian di Indo. Nanya-nanya nama cina gue. Bahkan persepsi dia adalah kita (orang cina-indo dan pribumi indo) banyak clash gitu dan kita nggak get along. Nanya-nanya temen gue ada yang nggak cina apa nggak. Sekalian aja gue bilang one of my best friends is Batak
. (Trus dia kayak bingung gitu itu apaan akhirnya gue terangin).
Bukan cuma itu, dia juga kepo tentang gue, gimana gue bisa nyampe sini, gimana interaksi gue dengan orang Singapur, dan bahkan rencana-rencana gue selanjutnya.
“So do you have more Indonesian friends or you also have Singaporean friends?”
“Yah…about quite the same [ini boong, pastinya],”
“How do you think about Singaporean? I want to know in detail,”
“Well, I cannot tell…,” [sambil ketawa-ketawa berharap pertanyaan dialihkan]
“Yes of course you can!” [maksa, dasar os]
“Well…I’m not that close to them, so I only talk to them. But mostly they’re nice people to talk to,” [jawaban netral yang lumayan bener]
Trus mereka nanya-nanya juga tentang proses gue sampe kesini. Ternyata istrinya adalah ex orang MoE (Ministry of Education) yang ngasih-ngasih tuition grant ke semua orang.
“Did you take GCA before?”
“What?”
“It’s a test for A level,”
“Oh no I didn’t take it. I just took the entrance examination from university,”
“Are you on scholarship? Is it from Singapore government or Indonesian?”
“Yes, I got it from Singapore government and from my school,”
“And your friends? How many of them in your cohort? Do they on scholarship also?”
“In EEE, maybe about 30 [ngarang]. Most of them are under tuition grant from MoE,”
“But there are bonds, right?”
“Yes, three years,”
“Will you go back to Indonesia?”
“Yes,”
“Why?”
“Because I think there’s something I could do there,”
“As an electronic person?”
“Yes,”
“Then what will you do after that? Will you stay in Singapore if they let you? If you get a job?”
“Well actually, Singapore is not my final destination. I want to go further,”
“To US?”
“No, to Europe, if I can,”
“Yes you can. Because I did it. I live there,”
[waw. mulai menarik nih. tetep kan Jerman negeri impian setelah sekian lama]
“Really?” [mata mulai berbinar. meskipun susah diliat saking sipitnya] “Where do you live?”
“First I work in Scotland, now I’m in London,”
[alamak. meskipun bukan Jerman, tetep aja loh, Inggris gitu...]
“Oh how nice,” [berlagak basa basi tapi sebenernya ngiler]
“So how come you get here?” [bisa diartikan: ngapain lo cina susah payah disini brusaha promosiin indo?]
“I’m volunteering for this event, and this is somekind of part-time job for me,”
“How about your friends, are they very Indonesian or do they think about China?”
“I think they’re very Indonesian,” [iyalah mana ada coba yang sampe mikir ingin balik dan membangun negeri leluhur? Ada juga membangun tanah air] “after all, we have lived there for hundreds of years,”
“You know what, it’s very nice to talk to you. I think you have a great plan for your life. And I think you’re a good representative also,”
[gue bener-bener kaget dia ngomong kalimat yang terakhir. Gue nggak pernah berpikir Indo seharusnya bangga punya gue. Gue nggak pernah mengira seseorang bisa punya good impression terhadap Indo karena gue. Sampe ngerasa terharu. (masalah emang ke-melankolis-an gue). Dan gue nggak pernah nyangka seorang total stranger bisa begitu menghargai gue, hidup yang sedang gue jalani, attitude gue, dan bahkan cita-cita gue. Gue bukan seseorang dengan prestasi spektakuler kok. Biasa aja. Bukan seseorang yang bisa bikin orang impressed. Iya nggak sih? Kesan pertama orang dengan gue tuh biasanya jelek. Entah nyolot, jutek, ato apalah. Tapi sekarang, ternyata gue bisa membangun dan mengembangkan diri gue. Gue bisa menjaga diri dan mengungkapkan pikiran gue dengan cara yang benar, walaupun dengan banyak hambatan dan orang-orang yang menghalangi gue. Karena ke-melankolis-an gue, gue sering ngerasa rendah diri dengan semua kekurangan gue dan kelebihan orang lain. Padahal, gue berharga. Regardless dari apapun. Dan gue nggak perlu seorang total stranger buat ngingetin gue. Gue berharga, dan siapa yang harus pertama menghargai gue kalo bukan diri gue sendiri? Gue berharga...dan lo semua juga.]
“Thank you. It’s very nice to talk to you too,”
“Goodbye,”
“Bye”
Enchanting Indonesia 2008 : rehearsals and set-up booths

Bagi yang nggak familiar, Enchanting Indonesia (EI) adalah suatu event tahunan yang dimulai sejak tahun lalu di Singapura. Tujuannya adalah untuk mempromosikan pariwisata, budaya, dan juga beberapa produk-produk Indonesia kepada penduduk dan turis yang sedang berkunjung di Singapura. Kali ini, EI 2008 diikuti oleh 13 provinsi yang memiliki akses langsung ke Singapura.
Tahun lalu gue sempet mampir sebentar ke acara ini. Dan menurut gue, ini adalah acara yang bagus untuk promosi Indonesia. Pertunjukan budaya yang diadakan di panggung juga bagus untuk menarik perhatian pengunjung, yang diharapkan tertarik juga mengunjungi booth-booth yang ada dan semoga tertarik untuk mengunjungi Indonesia.
Gue emang cukup concern dengan budaya dan pariwisata Indonesia, terutama budaya. Terkadang gue suka prihatin kenapa anak-anak udah nggak tertarik lagi untuk mempelajarinya. Buat gue, selama paspor gue masih ijo bergambar garuda pancasila, gue harus tau minimal satu kebudayaan Indo, dalam bentuk apapun. Ya nggak? Ekstrimnya nih, misalnya suatu hari gue liat suatu performance & gue nggak tau itu instrumen apa. Trus tau-tau bule di sebelah bilang “Oh that’s Balinese gamelan”. Gila malu banget kan? Makanya gue sebisa mungkin tau sedikit-sedikit budaya Indo, baik musik, tari, ataupun folklore.
Singkat cerita, gue mendaftarkan diri sebagai volunteer untuk EI 2008 ini. Gue agaknya nggak terlalu merhatiin pengumumannya, soalnya gue cuma inget tanggal 26-27. Gebleknya, gue kira itu bulan Agustus, soalnya dulu rasanya gue dateng kesitu pas gue udah agak settled.
Yah dan ternyata, itu di bulan Juli aja loh. Dan bentrok dengan senior camp GTD tanggal 25-26 Juli. Haduh. Lebih parah lagi, gue diharuskan dateng tanggal 25 untuk bantu set booth sebagai Liaison Officer provinsi Sulawesi Selatan. Jadi yasudah, gue akhirnya meninggalkan partner gue Jimot yang malang. Maap Mot!
Sejujurnya, mungkin gue bisa aja minta-minta untuk bolos tanggal 25 dan tetep ikut senior camp. Tapi, tanggal 25 itu adalah night games, dan gue takutnya luar biasa setengah mati. Gue emang paling sebel kalo ditakut-takutin. Menurut gue itu nggak penting banget lah. Nggak ada gunanya, cuma bikin project officers puas ngerjain orang-orang. Keberanian seseorang nggak diukur dari gituan, kan? Yah pokoknya gue akhirnya memutuskan untuk ke EI aja. Gue rasa, disana mungkin ada orang dari SulSel gitu yang butuh bantuan. Kalo gue stay di senior camp, gue cuma bikin orang repot aja dengan treakan, kepanikan dan ke-rese-an gue.
Tugas gue hari itu adalah untuk mendampingi orang-orang dari daerah tersebut, membantu, menjawab pertanyaan, dan liaised mereka dengan panitia serta perwakilan KBRI. Gue disuruh dateng jam 6. Berangkat dari NTU jam 5. Sial, gue salah perhitungan. Ini kan jam orang pulang kerja. Anjrit, ramenya udah kayak sarden pepes. Bus jadi lama banget karena berhenti di setiap stop dan orang yang naik turun juga banyak. Sekitar 5.30 baru brangkat dari Boon Lay. Jam 5.45 masih ada di Dover. Wah gawat, masih jauh. Bisa-bisa telat sejam. Akhirnya gue turun di Queenstown dan bela-belain naik taksi. Berhasil nyampe lokasi jam 6.10. Not so bad, right?
Eh ternyata orang-orang SulSel belom dateng aja loh. Jadi bersama Hezron (LO Sumatra Utara yang orangnya belom dateng juga), kita jadi anak ilang gitu ngiter-ngiter dan ngomentarin booth-booth. Booth Sumatra Selatan niat banget dibikinnya. Bener-bener heboh sendiri. Sulawesi Utara juga. Mejanya penuh brosur-brosur. Bahkan mereka nampak kelebihan barang gitu sampe nggak muat.
Entah brapa jam kita nunggu, bahkan sempet nonton rehearsal gamelan + tari bali dan beberapa tari tradisional dengan musik yang lebih modern. Sempet makan juga. Untungnya, setelah makan orang-orang SulSel dateng. Oh thanks God! Yaudah akhirnya gue datengin, perkenalin diri, dan bantuin mereka set-up, mulai dari masang poster dan ngisi goodie bag. Akhirnya Rocky & Hezron ikut diperbantukan juga secara mereka nggak ada kerjaan.
Ikut serta sebagai panitia dalam acara ini bener-bener suatu pengalaman baru buat gue. Dulu gue ikut panitia hampir selalu setengah terpaksa, karena gue udah committee untuk suatu periode, karena gue mau cari poin, karena gue mau nambah beberapa baris di surat rekomendasi gue. Tapi kali ini, gue sama sekali nggak ada maksud buat itu. Kali ini gue mau mempromosikan Indonesia. Gue mau orang luar menghargai Indonesia terutama keindahan pariwisata dan kekayaan budayanya.
Disini gue juga tertarik banget untuk mengunjungi wilayah-wilayah Indonesia. Banyak tempat di Indonesia yang indah, yah okelah banyak copet, tapi ya gue rasa gue cukup terlatih untuk menghindari…hahaha. Dan kalo kita sendiri nggak pernah mengunjungi, apalagi turis asing. Rada malu juga udah pernah nyampe Dusseldorf tapi nggak pernah ke Bunaken.
Yah gue harap suatu hari nanti gue bisa keliling Indonesia….kapan ya?
link from Indonesian embassy.
maybe the steps are a little bit too small
Yah. Kalo ada yang baca post gue yang tertanggal 19 Juli, mungkin masih inget 2 kalimat terakhir yang gue tulis: “I hope that I could keep walking. No matter how small the steps are.”
Maksudnya yah, gue masih pengen untuk tinggal di Jerman, dan mengikuti les Goethe di Singapur ini adalah langkah awal gue untuk memulai lagi setelah sempet terputus gara-gara terlalu kiasu belajar A level.
Nah, tadi gue baru aja mengunjungi situs Goethe Institut Jakarta. Gue penasaran kenapa di Singapur kok waktu kursusnya pendek banget. Bayangin aja kok cuma 10 minggu. Padahal kan di Jakarta kan 6 bulan. Dan…tanda tanya gue terjawab juga. Coba klik deh link2 ini:
.
Ya jelas aja lah di Singapur cuma sebentar. Kemajuannya dikit banget. Bahkan level A1 di expand sampe jadi 3. Dan ternyata gue udah mundur banyak banget. It’s gonna be a looooooooonnnnnnngggggg time before I can speak German properly.
As the title said, maybe the steps are a little bit too small.
Really?
Well, kayaknya gue emang harus belajar buat nggak terbawa budaya instan. Belajar bahasa memang suatu proses yang berkesinambungan dan nggak bisa belajar sebentar terus langsung bisa. Memang waktu yang terpakai akan lebih lama, tapi gue berharap gue jadi bisa lebih mendalami bahasa ini.
Gue emang harus belajar sabar. Nggak semua bisa diraih dengan mudah.
Belajar lebih rendah hati. Lebih mengakui kelemahan gue.
Belajar untuk bisa berusaha lebih keras.
Belajar menghargai.
Belajar hidup.
maybe it’s not a very good idea…
…to be agul. Hmm…agul tuh istilah kita, tepatnya istilahnya mami, anagram dari gaul. Artinya ya sama.
Oke, jadi ceritanya begini. Sebagai desperately homeless people, kita bosen banget di kampus. Biasanya ada aja yang bisa dilakukan di kamar kalo nggak ada kerjaan, ya misalnya aja bersiin kamar kalo lagi rajin, ato nggak ya ngautis di kamar. Sekarang mau bersih-bersih males, kan beberapa hari lagi mesti pergi dari kamar. Masih bisa ngautis sih…tapi rasanya males aja.
Yaudah jadi kita mau agul aja deh ke kota. Lagipula toh kan gue harus bayar Goethe yang di Somerset, which is deket banget ke Dhoby Ghout (bahkan gue kan pernah nyasar sampe sana). Jadi yasudahlah kita (gue, mami, mariam) memutuskan untuk nonton Batman di Cathay. Abis tu film kan hip banget
Kita berangkat sore, soalnya pagi ada latian buat GL performance. Akhirnya udah nentuin lagu juga. Abis itu kita makan di kantin 14, mandi di kamar mami, terus berangkat deh ke Somerset. Abis register di Goethe kita jalan ke Dhoby Ghout ke Cathay. Nyampe Cathay jam 6 lebih. Eh ya ampun emang agul banget ya tu film Batman, masa yang ada jam setengah 11? Yah karena sayang uda nyampe sono, akhirnya kita beli aja tuh tiket. Lagian berasa agul banget gitu…jam stngah 11 baru mulai nonton
Yah terusnya, kita kehabisan ide buat ngabisin waktu. Udah ke toko cd sampe lama banget (really hard to resist the temptation, as usual) dan ke toko buku numpang ngobrol di sofa-sofa yang semestinya buat baca. Akhirnya kita ke Plasa Singapura, ke toko Giordano karena mami terpancing promosi gue tentang skinny tee yang baru. (Lagi promo S$23 dapet 2. Satunya S$19. Bagus loh. Trust me
)
Setelah berlama-lama nyobain di fitting room, end up kita beli total 6 baju
. Gue juga akhirnya beli 1 lagi meskipun belom lama ini gue udah beli 2. Biasalah cewek, kalo suka sama 1 model suka beli warna-warni…hehehe…
Abis itu kita makan, dan akhirnya jam menunjukkan jam 10 juga jadi kita bisa start jalan ke Cathay. Dan makin lama rencana hari itu semakin terlihat nggak bagus.
- Meskipun kita beli tiket 3.5 jam sebelumnya, kita dapet baris kedua dari depan. Which is…leher pegel dan mata capek.
- Heath Ledger luar biasa brilian jadi joker. Psycho banget. Saking briliannya sampe gue takut setengah mati waktu dia muncul. Abis gampang banget bunuh orang. Sadis. Dan ‘bagusnya’ lagi, banyak banget adegan dia close-up. Duh. Duduk depan banget lagi. Serem banget tau-tau joker segede layar nongol. Hiiiiyyy
- Pengaruh baru balik dari Indo. Di Indo gue tidur cukup teratur, ya at least jam 11an gue udah di kamar. Jadi kemaren gue ngantuk banget di bioskop. Tapi mau nggak mau tetep sadar juga, soalnya takut sama si joker.
- Kita nonton di teater 1 Cathay, which is gede banget dan dingin banget. Mana lagi pake kaos yang tangannya pendek lagi. Menyesal nggak bawa jaket.
- Subtitle-nya bahasa cina. Fine. Tengs. Ya emang kita speak English quite well tapi kan orang bule suka kumur2 kalo ngomong.
- “The Dark Knight” emang film bagus. Tapi ya ampun, konfliknya buanyak banget. Dua setengah jam entah brapa konflik yang ada. Ada lah businessman cina yang tau-tau diculik. Bingung gue. Trus si Maggie Gylenhall yang nongol sekali-sekali doang dan nggak jelas dia suka sama cowok yang mana. Belom lagi ada si two-face yang sebentar doank tau-tau mati. Jujur, gue mungkin perlu 2-3 kali nonton lagi biar bisa ngerti.
Yah intinya, kayaknya kita bukan anak agul. Kita tuh anak pinggiran Singapura yang kerjaannya ngautis dan bukannya agul di kota
at least one step closer
So it’s been a day but for me, that’s not too late to tell a story
It happened in a very early morning, well at least for most of NTU students. I woke up at 6.40am. Wuw, a record. Today (or yesterday) was my test day. I took the time to read my notes (which I’ve just made yesterday) and memorize it. I left my room at 8.30, had breakfast then wait for the bus at 9am.
I reached Somerset MRT at about 10am. Still a lot of time for me to get lost…hahaha. This time I have no idea where is that Goethe Institut. The website only provided the address: 163 Penang Road. So the first thing is to find the road. I cannot find it in the locality map provided at the station, so I approached an officer and asked him. He told me to exit from exit A, turn left, then turn left again.
I walked outside and turn left, just as he said. Then I saw a small path heading to the left. I was very sure that this was the right direction so I followed that path. And just guess what was happened next. Yes of course, I got lost. I found myself in the Grange Road or something, which leads to Orchard Road. Oh man. Then I continue walked through Devonshire Road and find myself again in Exeter Road, which is right outside the MRT station.
Okay. So I started over again. This time I choose the further path. I was ready to get lost once again when I finally see that sign “Penang Road”. Oh thank God!!
Then another problem came. Where was that Goethe Ins? In Jakarta, Goethe Ins is a one-story building with a clear sign said “Goethe Institut”. I was expecting a building like that also. So I walked through that Penang Road, trying to find the building. I kept walking, and suddenly I found something familiar. Oh man, it was already Dhoby Ghout station! Yeah I was lost again.
I was on my way back when I suddenly hear a brake sound, and CRASH! There was an accident in the traffic. I didn’t really care, I kept on walking. Didn’t have much time at the moment. I have to find the building. Fast.
I went back to that road, and still cannot find the Institut. Crap. So I managed to enter a building. Something tower. And asked the security. And he said that Goethe Institut is in the other tower, level five. Great. Of course I couldn’t find it. So finally, I reached the place.
This Goethe Institut is far smaller than in Jakarta. But I can feel quite the same feeling with Goethe Ins Jakarta. Feels comfortable. I feel welcomed, even when there’s no one welcoming me.
Five to eleven, I met Frau Habouz, Head of Language Dept. Well I still wondered why should I make an appointment with her. I mean, she’s a Head Department. Someone important. I just need someone to give the test paper to me. And I could see that she was rather disappointed with me. Well, I’ve forgot almost everything about German. I barely could answer her questions
And the result…I got A2.1. WHAT? I was expecting a B1.1, which is 3 levels above. Because I brought my last report, Frau Habouz said that I could try a A2.2. But that level only has one time slot, on Monday, which of course I cannot make it. I said I can only make it on Saturdays. So with considerations, she put me on A2.3 and said “don’t complain that it’s too difficult for you”. Yeah. I think it ends quite good.
My mum was okay with that final result. Only a level below my expectation. Got to pay them S$490 for course fee, books, and membership tomorrow.
One step closer to Germany. I hope that I could keep walking. No matter how small the steps are.
deutsch lernen mode
So yes, I’ve decided to take a placement test at Goethe Institut Singapore. I hope that I could reach my last level, B1.1. Why? Because well, to be honest, I didn’t learn anything from that last level. We didn’t like our teacher, plus I had to start studying A level. Our exam was completely a cheating party…which was a huge success because my score in the report is 2 (gut = good)
.
The only problem is, the test is TOMORROW. Goethe Ins had already held the test on 15th but I cannot make it. So I have to arrange another test with them, and it has to be this week. So…do I have another choice?
I’m lucky enough that Nany has already finished her school so she’s free to teach me via internet. [Thank God for msn!]. And because I cannot find my old notes, I have to learn from free websites. I just hope that my brain won’t fail me, and the questions are answerable. And of course, I pray Thee to guide me throughout the test tomorrow.
Please pray for me too
finally…a problem solved
Nothing much to do these days, instead, I have a lot to THINK. Finally me, Steffanie, Riandy and Ranggie have already came out with a plan to stay at Nanyang Executive Centre (NEC) near NTU. The reasons? Well we have a lot to prepare for GTD (Indo freshmen orientation) which mostly will take place around the campus. If we stay outside NTU, we will spend quite a lot of money for our transportation…
The plan has already gone through a lot of discussions, because on the other hand, this plan has many disadvantages also. The main problem is the price. It’s about S$140 per night for a twin share standard bedroom and S$120 for single bedroom (I’m sure they increased the rate because the convocation next week). But anyway, we’ve booked a double room. So now we’re trying to find some more roommates
There’s also an issue about we (boys & girls) stay together in a room. Well personally, I don’t think that’s a big problem. I know we can take care of ourselves. We know our boundaries. Besides, all we need is a place to lie down and sleep. And shower.
Although this plan seems not the best, (everyone suggested us to rent another place outside NTU. But I am so TIRED of all the uncertainties) I’m satisfied. I know NEC is expensive, but at least I can find some peace in mind. I really need that.
danke…
I’ve moved about 80% my stuffs to my friends’ room. Phew. So relieved. Yesterday hall office finally replied my email and said that I can extend to stay in my room but I need to fill out forms. So maybe I’ll move the rest of my stuffs to Irene’s and extend until 18th or 19th.
Why this post titled ‘thank you’?
Of course, because I want to say it to some people who help me today and yesterday.
To Henry, Riandy, Novi, Komang + Verdyka, and Adith. Thank you thank you thank you.
You guys remind me that kindness is still exist in this world.
viele Katastrophe
Yak memang bener kata Rhesa, Singapura itu pulau neraka! Kurang dari 24 jam gue nyampe, udah banyak katastrophe (disaster) yang terjadi. Bener-bener menguras fisik + mental.
- Kuping gw bermasalah lagi dengan pesawat sekitar 20 menit menjelang landing. Sakit anjrit. Heran deh padahal 12 jam terbang non-stop pp Belanda nggak terganggu tuh…kuping gw yang aneh…
- Kamar gw yang dipenuhin debu + serangga mati! Hiiyy…vacuum cleaner gue yang malang…harus menyedot semuanya…dan gw nggak brani bersiin takut jijay…
- Sebelom ninggalin Singapur bulan kemaren, gue udah ngosongin semua baju gue ke satu koper. Uda di pres abis-abisan sampe padet. Kombinasi nomernya gue catet di Roger. Eh tadi gue dateng tau-tau kopernya nggak bisa dibuka!! Matilah. Dicoba brapa kali juga tetep keukeuh nggak kebuka. Yasudahlah terpaksa gue bobol. Entah berapa jam itu gue coba bobol risleting. Untung akhirnya kebuka juga. Lesson of the day: koper Pierre Cardin bahannya bagus tapi kuncinya ampas.
- Felix rusak lagi. Oh man! Kali ini yang masalah tampaknya sistem pembuangan. Exhaust fan nya yang biasanya ngluarin udara panas luar biasa sekarang nggak berangin. Gawat! Berarti panasnya stuck di dalem. Gabisa puas-puasin ol deh. Untung masih ada garansi. Hari selasa pagi harus ngorcet & bawa Felix rawat inap.
- Charger Felix yang kaki 3 (buat di Singapur) ketinggalan di Indo beserta baju renang gue yang masih dijemur. Oh great.
- Buku gw ternyata BANYAK gila. Berat setengah mati.
- Kamar Novi (yang mau gw titipin barang) ternyata di lantai 4. Wew. Perjuangan deh buat mindahin barang. Tadi jari-jari sampe susah balik ke posisi semula saking beratnya tarik & angkat koper. Besok pasti sakit pinggang akut dan pegel-pegel tingkat lanjut. Untung masih ada counterpain cool…
- Proses packing baru kelar sekitar 40-50% dan gw capek setengah mati.
Masih ada hari esok yang sangaaaaaaaattttt panjang karena harus nyelesein ngepak………
Singapore again
So, ini hari terakhir gue di tanah air…sampe Desember. Besok gue harus balik ke Singapura pagi-pagi buta untuk kembali merantau (kali ini homeless). Berbagai tugas menunggu sesampainya di sana, mulai dari yang pribadi (packing dan cari tempat tinggal) sampai organisasi (persiapan GTD di OG dan GL performance). Wew…
Tapi di dalam musim dingin penuh badai pasti ada hari-hari cerah. Yah hari-hari untuk jalan-jalan ke kota dan menikmati suasana Orchard. Bosen tapi kadang-kadang kangen juga. Orchard kan Singapur banget
. Pengen menikmati internet tak terbatas lagi (disini harus rebutan sama ade)…yah walaupun cuma sebentar soalnya kan gue nggak dapet kamar. Dan terutama, seperti biasa, pengen pergi dari rumah dan tinggal deket sama temen-temen.
Ohya tak lupa les Jerman yang tampaknya akan terlaksana (kalo duit cukup). Nyokap udah mendukung ngeliat gue yang enthu banget. Semoga banget dapet hostel di 2nd round (amin!) jadi nggak usah rent dan duit bisa dipake ngeles. Sialnya, Goethe pake buku baru yang Redaktion-D. Sial. Gue kan udah koleksi Themen Neu sampe 3…
. Dan catetan gue yang dulu entah ada dimana. Padahal gue kan kalo nyatet gituan niat banget jadi rapi dan berguna banget blajar itu buat placement test.
Satu lagi, semester ini gue udah memutuskan untuk kiasu pulang…semoga mami mau diajak. Paling nggak pengennya 1 Desember udah di Indo (masih exam ga sih gw tanggal sgitu?) untuk ikut TC. Yah kan PSUMB bakal tanding di GPMB ini, yang menurut gue heboh banget, soalnya semua tim kuat kategori sekolah ikut semua, mulai dari BCK Duri, Smansa, dan TarQ. Buset…yah mungkin anak-anak sanur perlu bantuan…hahaha…
Wew…Singapore again…