Paris, first impression
Tadinya gue cuma enthu untuk ke Musee du Louvre kalo ke Paris, tapi semua berubah setelah nyampe kesitu. Kota ini bener-bener BAGUS banget. Hampir semua gedungnya nyeni. Di tengah kota tahu-tahu ada lapangan dengan air mancur dan patung-patung di sekelilingnya, terus obelisk yang dari Mesir, di pojok suddenly ada patung pahlawan Prancis…bustour definitely is not enough! Masa ke Eiffel cuma 20 menit dan Louvre 10 menit dari jauh? Jangan pernah ke Paris dengan bustour. Mending naik metro ke tengah kota terus ngautis…hehehe
Omong-omong, sistem metro di Paris juga gila-gilaan. Ada lebih dari 200 stasiun metro di kota ini doang. Ya ampun…
Jalan-jalan di kota ini luar biasa ruwet dan rame, tapi ya kalau mau jalan kaki rasanya bisa lah dengan peta yang akurat.
Yah mungkin suatu hari nanti bisa lah kesana lagi sama pacar…
Link: Paris’ metro
Brussels
Cuaca tidak terlalu bersahabat sewaktu gue tiba di Brussels. Anginnya lumayan kenceng, dingin, dan kadang-kadang hujan. Brussels kota kecil yang rapet dan padat. Agak repot disini karena orang Belgia berbahasa Prancis dan Belanda, serta kita ikut tur yang berbahasa Jerman. Pengetahuan gue tentang bahasa Prancis tidak terlalu bagus [sorry I didn't pay much attention, Jerome!], dan nyokap sama sekali nggak tahu apa-apa.
Dom di Brussels juga bagus, meskipun nggak semegah yang di Köln. Ada patung-patung ke-12 rasul, dan ada semacam mimbar yang menurut gue bagus banget. Jadi paling bawah ada Adam & Hawa diusir oleh malaikat dengan pedang berapi dari Eden, lalu diatasnya ada Virgin Mary bersama Yesus (yang masih kecil) bersama-sama mengalahkan iblis dengan salib. [Opini gue saja ya, tapi penggambaran sosok Virgin Mary disini mirip Athena, dewi Yunani].
Sehabis itu kita naik metro untuk ke Atomium. Metro di Brussels lumayan simpel, mirip Singapura. Cuma ada 3 line. Kita turun di Heysel (jadi kepikiran apakah ada hubungannya dengan tragedi Liverpool di Heysel. Harus nge-wiki pas pulang!).
Gue baru tahu Atomium ternyata dibangun untuk The Great Exhibition (Exposition Universelle in French. Baru belajar di kelas ADM. Thanks, Dr. K!), sama seperti Eiffel Tower. Pantas di sekitar Atomium banyak terdapat ‘negara-negara’ lain, dan Atomium sendiri dimaksudkan biar orang-orang gampang melihat ‘negara-negara’ tersebut dari atas. Hmm…nice…
Setelah Atomium kita balik ke Gare Centrale untuk ke Belgisch Centrum voor het Beeldverhaal alias museum untuk komik-komik Belgia, macem Smurf, Lucky Luke, dan Tintin (gue fans beratnya, makanya dibela2in kesini). Museumnya lucu banget, tangga masuknya dibikin mirip Marlinspike Hall, terus ada roket yang dipake Tintin ke bulan (tingginya sekitar 2.5m), karakter-karakter Tintin lainnya dan sejarah Georges Remi alias Hergé, si pencipta Tintin. Jadi pengen baca ulang semua seri Tintin pas pulang Indo…hihihi… Dari Brussels gue nggak sempet beli souvenir yang menyatakan Brussels atopun Belgia. Tapi di Atomium sempet beli miniaturnya yang murah (cui =p) dan pin tintin di museum komik itu.
Jadi inget temen SD gue yang setengah Belgia, si Lawrence yang sebenernya lumayan ganteng tapi geblek dan menyebalkan…hahaha…dimana ya dia sekarang? Apa kabarnya? Duh jadi kangen temen-temen lama…
Köln
[Written on Wednesday, 18 June 2008, 6.49pm Düsseldorf time]
Baru pulang nih dari Köln bareng nyokap. Rissa agak sakit hari ini jadi nggak ikut. Semoga besok dia baikan lah, soalnya kan mau ke Brussel.
Sebenernya gue bingung sih kalo ditanya di Jerman mau lihat apa, mau pergi kemana. Bukan berarti tempat-tempat di Jerman nggak interesting ato gimana, tapi gue emang cuma mau untuk nyampe sini. Moreover, untuk tinggal disini. Sampe sekarang gue nggak ngerti apa yang bikin gue segitu pengennya untuk tinggal di Jerman, padahal kan tinggal di tempat lain, misalnya Belanda, bikin hidup jadi lebih mudah. Yah gitulah, jadi sebenernya gue bingung mau pergi kemana.
Köln (Cologne) akhirnya jadi pilihan gue karena direkomendasiin sama oom gue di Jakarta yang lumayan sering ke Jerman. Katanya ada Schokoladenmuseum (Museum Coklat) yang bagus. Kemarin Nany juga bilang Dom (katedral) di situ bagus dan terkenal, jadi yasudahlah akhirnya pergi juga gue ke Köln.
Dom di situ gampang ditemukan, soalnya letaknya persis di depan Hauptbahnhof (Hbf) tempat kita turun. Bangunannya memang bagus banget, megah, besar, dan keren banget. Di dalem situ sih rada gelap (mungkin rada Gothic?) tapi tetep megah dan banyak karya seni yang keren-keren dalam bentuk lukisan, patung, mosaik di jendela & juga di lantai.
Di sekitar Dom rame banget. Tampaknya itu salah satu tempat agul di Köln…haha. Ada beberapa orang yang mempresentasikan karya seni mereka, such as jadi human statue dan gambar di jalanan. Interesting.
Abis dari Dom kita ke Schokoladenmuseum. Orang di bagian informasi di Köln Hbf bilang museumnya masih dalam walking distance dan nggak ada U-bahn (trem) yang kesana. Yasudahlah kita percaya aja, dan ternyata jaraknya paling sedikit 2.5km dari Hbf. Okey fine tengs very much for your help, Herr. Duh cape banget mana gue pake sepatu cewek lagi. Sempet kesasar juga. Belakangan pas pulang ternyata deket situ ada U-bahn, tapi harus rada muter dan ganti kereta untuk sampai ke Hbf. Sial.
Schokoladenmuseum rame dengan anak-anak sekolah. Mungkin semacem pembelajaran diluar sekolah kali ya. Sponsornya Lindt, jadi dimana-mana ada logo dan coklat berbungkus Lindt. Pertama-tama ada sejarah coklat yang dari bangsa Maya gitu-gitu, perkembangan pengolahan coklat, dan proses pengolahannya. Lebih jauh, ada mesin pembuat coklat kemasan beneran (dari sang sponsor) yang bener-bener jalan dan chocolate fondue gede banget. Interesting.
Di lantai atas juga ada coklat yang dibentuk lucu-lucu. Duh jadi pengen makan coklat…
Links: Kölner Dom & Schokoladenmuseum
Essen, Mülheim, Duisburg, dan kereta2 Jerman
Written on Wednesday, June 18th 2008, 7.27am Düsseldorf time
Kemarin kita pergi ke rumah sodara yang di Essen. Namanya Tante Esther dan mamanya Tante Evelyn (ato Oma Evelyn?). Dari Essen Hauptbahnhof mesti naik trem lagi rada jauh.
Tante Esther menikah dengan orang Jerman, Oom Stefan, jadi anak-anaknya bule tapi matanya coklat dan sipit [tapi jangan bandingin sama gue lah]. Anaknya yang pertama cewek, namanya Celine, ya ampun cantik banget padahal baru umur 6. Yah jadi inspirasi kalau mau memperbaiki keturunan
Kerjaan disana sih cuma duduk di meja terus makan kue dan ngobrol2 tentang keluarga kita yang extended sampe kemana-mana. Bahkan ada rencana bikin family tree yang menghubungkan semua orang bernama ‘Gan’ di Indo [yang of course bakal nge-link banyak marga lainnya such as ‘Oey', ‘Tan', ‘Shen' (my grandma's), ‘Yap' (my mum's) dll dst]. Itu idenya Oom Steve. Tapi ya ampun, bayangin aja. Orang cina di Indo kan uda ratusan tahun. Uda sekian puluh generasi. Belom lagi yang nikah dengan orang non-cina juga banyak. Bakal lama banget sebelum rencana ini bisa terealisasi. Jadi kalau ada yang baca ini bermarga ‘Gan’ harap hubungi gue nanti gue kasi tau Oom Steve…hehehe
Ngobrol2nya gado-gado bahasa Indo & Jerman, soalnya Tante Esther kan uda disini dari umur 2 taon dan Oom Stefan juga ikutan. Wah pusing deh mana uda 1,5 tahun gue nggak nyentuh bahasa Jerman (terakhir kali gue cuma iseng2 liat textbooknya Tepen
). Ngomongnya cepet banget lagi. Gue sih nggak ngerti kata-per-kata tapi dalam satu conversation ada beberapa kata yang gue tau terus nebak-nebak sendiri. Definitely harus belajar Jerman lagi, apalagi dengan target ambil master terus tinggal disini (amin!
)
Pulangnya kita mampir Duisburg via Mülheim untuk liat pick-up-point buat ke Brussel. Trip hari ini bikin gue mikir tentang sistem transportasi Jerman. Buat gue di Singapura sistemnya oke, tapi di Jerman alamak dahsyat! Peta jalur keretanya luar biasa ruwet. Bayangkan orang-orang yang bekerja mengatur itu semua.
Keretanya ada macem-macem pula. Ada yang dalam kota, antar kota, antar region, antar negara, dan jangan lupa ada bus juga. Ada lagi kereta malam dan kereta yang bisa masukin mobil. Mostly, terutama kereta dalam kota, harus dateng dalam jangka waktu yang nggak gitu lama. Gimana coba caranya ngatur?
Belom lagi sistem tiketnya. Ada tiket satu-orang-sekali jalan, ada tiket utk grup, tiket all-day-wherever-you-want, tiket langganan, dll dll. Kalau saja pemerintah Indo peduli terhadap transportasi umum, dan kalau saja orang-orang yang diberi kemampuan untuk membuat sistem yang bagus juga peduli, dan kalau saja mereka nggak korupsi…
Ohya kemarin Nany telpon gue. Long nice talk. Jadi inget dulu kita pengen banget sekolah di Jerman, sampe les Goethe bareng. Apparently cuma dia yang bisa merealisasikannya. Gue? Gue stuck di Singapura yang banyak oc…
Deutschland, first impressions
Sebenernya udah mau nulis dari kemarin, tapi kemarin gue tidur agak malem karena nonton Austria vs Jerman dan akhirnya kan nggak enak ngetik pas semua orang uda tidur takutnya berisik. Jadi ini yang gue mau tulis kemarin:
Beberapa fakta dan berita (dan opini, of course) tentang Jerman:
• Orang Jerman tampaknya nggak terlalu enthu tentang negaranya di Euro 2008, kalau dibandingkan dengan orang Belanda. Di Amsterdam hampir tiap jalan ada tanda Heineken [maksudnya ada pub] dan tiap pub dihias heboh warna oranye. Rumah orang biasa pun juga dikasih gantungan bendera2 oranye gitu. Tapi yah, gue kan di Düsseldorf…mungkin aja kalo di Berlin hiasan & bendera Jerman uda bertebaran kayak kacang gratis.
• Ini negeri dimana ve-we dan bi-em-dobel-yu udah kayak kijang di Indo
• Jerman menang 1-0 kemarin lewat freekicknya Michael Ballack. Yay!!
• Lukas Podolski makin jelek dari hari ke hari (of course ini opini. Tau kan sebenernya tampang buat gue nggak masalah kalo orangnya oke. Kalo orangnya nggak oke, tampang jadi masalah buat gue…hehehe) setelah dia bilang dia ngerasa berat ngegol lawan Poland karena dia punya darah Polish dan ada keluarga di sana. Nggak tau kenapa gue sebel banget. Kalo emang hati lebih ke Poland ya bela Poland aja toh? Jangan-jangan dia gabung Jerman soalnya kan Jerman punya chance lebih besar buat menang…
• Thanks God, Arne dimainin kemarin. Seneng rasanya liat dia di lapangan lagi. Yah meskipun kadang-kadang dia agak sedikit terlalu kalem waktu jaga wilayahnya.
• Kemarin jalan-jalan di Altstadt (Old Town) nya Dusseldorf. Ada gereja namanya Basilika St. Lambertus. Bahkan itu bukan gereja utama di kota besar atau semacemnya, tapi bagus banget. Gimana kalo gereja besar ya? Yah rada gelap sih jadinya rada serem dikit, tapi banyak karya seni khas gereja gitu. Really nice.
• Kayaknya pelatih Jerman tahun-tahun belakangan selalu pake kemeja putih ngepas sewaktu di lapangan. Jürgen Klinsmann 2 tahun lalu juga begitu. Duh tapi buat gue Joachim Löw pakenya yang ketat banget. One size bigger maybe, Herr Löw?
• Pemain-pemain Jerman agak plegmatis dalam urusan menyerang. Kalau nggak salah inget tahun 2006 sih nggak begini. Pokoknya mereka sekarang nggak terlalu ngotot untuk menyerang, apalagi kalau sudah unggul by one goal. Jadi nyerang ya nyerang…kalau nggak bisa ya sudah. [Atau mungkin karena Podolski punya keluarga di Austria juga jadi nggak enak ngegolin?]
• Jenggotnya Cristoph Metzelder DIBAHAS aja loh di koran (kalau gue nggak salah ngerti. Tapi gue cukup yakin sih, meskipun gue nggak bisa baca isinya)
• Orang Jerman memang tidak ramah. Nyokap suka ngomel-ngomel. Tapi ya mau gimana. Mereka orang Jerman di tanah Jerman, they can do whatever they like. Kalau orang Jerman di tanah Indo nggak ramah, nah itu baru deh boleh ngomel-ngomel.
obrolan ringan tentang orang Jerman
Written on Monday, June 16, 2008, 8.46am Dusseldorf time.
Tadi pagi ngobrol2 dengan Tante Ate tentang orang jerman. Ya ampun, entah kenapa ngerasa kok orang jerman rada mirip dengan saya ya? Yang jelas sih nggak ramah [nyokap suka ngomel2 soalnya saya suka nggak peka ga suka basa-basi padahal kan orang indo pasti ini itu banyak basa basinya]. Misalnya aja kita ketemu acquaintance orang jerman terus tanya “Hey, mau kemana?”, mereka bakal mikir: “Lo siapa? Itu urusan gw,”. Apalagi kalo ditanyain “Anaknya berapa ya?” “Oh nggak punya anak?”, mereka sebel kalo ditanyain begitu. Astaga. Mirip banget sama saya, apalagi kalo saya ngerasa nggak penting untuk kenal mereka. (Nggak ngerti deh kenapa mental saya gini. Saya sih cuma mau basa-basi ke orang yang saya anggap perlu untuk jadi deket). Memang masalah hidup saya di negeri timur tapi over cuek gini. Mereka nggak akan nawarin sesuatu kalo dari awal mereka nggak mau ngasih. Beda kayak orang indo yang nawarin ini itu meskipun sebenernya mereka nggak mau ngasih (dan yang ditawarin demi kesopanan bakal nolak). Yah begitulah orang indo. Kayaknya asik juga ya kalo sampe (amin!) saya bias hidup di jerman. Itu keinginan saya dari dulu…mungkin nggak ya terealisasi?
Den Haag, Delft, Rotterdam
Written on Sunday 15 June 2008, 9.12pm Dusseldorf time
Hari ini jadwalnya pergi ke Den Haag terus ketemu Oom Steve & istrinya Tante Nike [kata panggilan oom dan tante tuh asalnya dari Belanda, lho...jadi pas banget digunakan sekarang
]. Oom Steve orangnya tinggi rada kurus gitu, tampangnya serius banget pas pertama kali liat…eh tapi ternyata dia juga suka lupa jalan. Tante Nike kelihatannya masih muda, pake tas crumpler, dan suka enthu sendiri.
Pertama-tama kita ke Madurodam, tempat maketnya gedung2 terkenal di Belanda. Ada macem2, mulai dari tempatnya si ratu, gedung pengadilan, sampe pelabuhan kapal & Schiphol airport. Dahsyat lah pokoknya. Ngambil banyak banget foto disana (kampungan tp yasudahlah namanya juga turis, toh?).
Terus kita diajak ke TU Delft, univesitasnya Tante Nike. Ga boong itu GEDE banget. Bener-bener bikin NTU jadi cuprut secuprut-cuprutnya. Belom lagi librarynya yang lebi gede dikit dari LeeWeeNam tapi design sekeren ADM. Di design khusus biar banyak sinar matahari masuk. Keren banget!
Abis itu kita diajak makan di tengah2 kota Delft. Katanya kota ini cuma rame kalo ada keluarga kerajaan yang mati, gara2nya semua royal family dikuburin di gereja depan balai kotanya. Makanannya pancake dkk. Porsinya sepiring gede gitu. Wah kenyang sampe bunting dah. Enak lagi. Hmm… Ohya disebelahnya saya beli sepatu kamar bentuk sepatu belanda warna oren!
Tujuan berikutnya ke Kinderdijk, tempat windmills. Akhirnya baru deh bener2 ngerasa ke negri kincir angin…hehehe…salah satu bangunannya bias dikunjungin (tapi bayar sih ). Isinya…kayak balik ke tempat oma saya di Purbalingga sana. Banyak barang2 kuno gitu…yah sekali lagi pertanda bekas2 penjajahan.
Setelah itu kita dianterin ke Rotterdam, untuk naik kereta ke Dusseldorf via Utrecht (ada relative lagi disitu…namanya Tante Ate…ato mungkin saya harus panggil Oma ya?). DI kereta sempet sms si mami (sebelum nyadar kalo itu lagi jam 11 di Indo dan pastinya dia udah tidur) dan sms tepen juga. Duh kangen kalian smua, beybs!
Amsterdam
Written on Sunday, June 15, 2008, 04.41am Amsterdam time
So finally…Amsterdam!! Unexpectedly, this city is so damn cold, even though it’s still summer. I really wish to email my friend Hans, whom I once met when I was still in high school, but unfortunately there’s no free internet connection here! Yeah so that’s why I cannot publish my previous posts also.
Me, my mum, and my sister arrived at 6am in the morning. Imagine there’s nobody in the airport and the train station. We then stayed in Novotel Amsterdam, located near the RAI station. The location is good. It’s near both train and tram station. To go to the city, we just need to ride a tram number 4.
We went to Madame Tussauds yesterday. It was a great place, as everybody had said. First the tunnels lead us to the history of Dutch. Was quite boring [yeah I know the history of Dutch, ituloh yang mereka berlayar ke Asia Tenggara utk cari rempah2 n ujung2nya ngejajah 3.5 abad] but the wax statues was cool. Then it comes the Chamber of Horror, contains pirates but in scary way. They have wax statues picturing people hanged with opened stomach and all the blood. Urgh! The staffs even dressed in Jack Sparrow way. Well, Jack Sparrow was cool, IN THE LIGHT, but think again if you have to see him IN THE DARK. And that Jack is in the prison, trying to reach you, and EVEN HE GOT OUT OF THE JAIL…Ow shit. I know he’s trying to scare us, but PLEASE don’t get out of the jail. I was so scared I screamed. Oh yes it was embarrassing, but I don’t care.
Then finally we can go to the bright room with wax statues of famous people, like Dutch royal family, Princess Diana, US Presidents, and Mahatma Gandhi. The next room is for musicians, such as James Brown, Elvis, Bob Marley, and even Justin. Next one is filled with DJ Tiesto, Ronaldinho, and De Boer twins. Downstairs they have Hollywood, like Mel Gibson, Oprah, Julia Roberts, Brangelina, and JLo. After that the rooms are filled with Dutch stars, which I don’t really know.
But the highlight of the day was, of course, The Van Gogh Museum. It was beautiful. We have to pay 10 euros for adults and 2.50 euros for my sister, luckily, because she clearly didn’t enjoy this trip. I have to pay extra 4 euros for audio tour but who cares? I finally reach the city of Amsterdam and this museum. An extra IDR 60.000 is worth everything. The ground floor [or level 0] is for the paintings which inspired Vincent van Gogh. The first floor is for van Gogh collections, divided into 5 sections: The Netherlands, Antwerp, Paris, Arles, Saint-Remy, and Auvres-sur-Oise. Finally I can see the famous “Sunflower” in the yellow background, which is the like the signature of him and other beautiful works including the painting which I already seen in the ADM 280 class. I personally like “Still Life with Bible” because it contains a deep meaning. I didn’t really understand the items in the second floor, because my sister is absolutely bored and tired, and my mum insisted me to just scan the items quickly. Me? What to say? She’s the boss, even if I had said that I maybe will never go to that museum again. The one thing I notice in the 2nd floor is the analysis of a painting of a potato basket. It said if we rotate 90 degrees the X-ray scanning of the painting, we will see a shepherd figure with the sheep and a dog. Then if we rotate it again 90 degrees, we will see a woman figure knitting. Cool! It’s just like Da Vinci code, while this one is Van Gogh’s code
.
The third floor is for the paintings inspired by van Gogh. Again, I have to just scan them quickly, because, after all, I was so damn tired because of jetlag and lack of rest. I cannot concentrate fully on the paintings.
Before I left the museum, I bought something at the souvenir shop for Nete’s bday. Hope you’ll like it, beyb!
After that finally we check in to the hotel and have a long long sleep. I slept from 3pm to 4am. Okay. I’m a piggy. But jetlag is really affected me. So now we are all awake at about 4am (which is about 11am in Jakarta).
Today’s schedule is to Den Haag, meet a relative and see some windmills. Cya!
KL
Written on Friday, June 13th, 9.55pm Malaysian time
Yeah right. I’m in KL now, in transit to Amsterdam. The plane has to be cleaned before we continue the journey to Amsterdam. It was a 747-400, and it’s HUGE. I think that’s the biggest plane I’ve ever used. It even has 2nd stories. And the meal was Malaysian. Yeah that’s quite a problem because they served it with a cheesecake also. Quite weird.Well, Kuala Lumpur International Airport is a nice and modern one, just like Changi. They also have the ‘skytrain’ but here they called it ‘Aerotrain’. It was nice, but nothing so special, I guess…ahaha…
Ah that’s the announcement. I have to go back to the plane!
Written on Friday, June 13th, 3 am, Jakarta time
It is happen what I fear, then. I was afraid that Germany will face a tough challenge and they will waste so many chances, or even they won’t create enough ones. Their opponent today was Croatia. Well, to be honest, I didn’t pay too much attention throughout the match. I was very sleepy, and my TV isn’t very clear, in fact I only can see the players, but I cannot see the ball! Yeah imagine how boring is that, and I saw that Germany’s defense was awful…oh no why didn’t Low play Arne? (okay well it’s just my personal opinion…he’s cute!)
Cannot comment more on the match, though, as I’ve said before, I didn’t pay much attention. I only stay awake till Croatia’s first goal and a little more. I was very tired. My biological times here are very different from Singapore. Yeah and in just a few hours I will have to suffer 16 hours in a plane then adapt with about 6 hours time difference. Oh okay then. That seems fun.
Have bad news. My hotel in Amsterdam doesn’t provide free internet, so we have to pay if we want to use. Ah! Yeah well so I guess I wouldn’t be around for the next 2 weeks, and by the time I come back, I will post maybe like a dozen of stories and photo albums!!