Ballack hanya terpana melihat lautan merah itu
Yah akhirnya kelar juga Euro 2008 dengan Spanyol sebagai juaranya [big thanks to Senor Aragones]. Dari lubuk hati, gue puas dengan final Euro kali ini. Nggak ngebosenin (kayak euro 2004) dan cukup fair (nggak kayak world cup 2006).
Terlepas dari fakta gue fans-nya Casillas, menurut gue Spanyol pantes memenangkan turnamen ini. Mereka konsisten, bahkan cleansweep 6 pertandingan tanpa kalah. Hanya 1 pertandingan dimana mereka bermain sampai lebih dari 90 menit [lawan Italia]. Lainnya mereka bagai menang straight set tanpa deuce.
Di final ini, Jerman-lah yang berinisiatif menyerang lebih dulu. Tadinya gue uda seneng, wah Jerman udah nggak lambat panas lagi. Beberapa menit kemudian, banteng-banteng Spanyol ikutan panas dan justru merekalah yang aktif menyerang ke jantung pertahanan Jerman.
Skor akhir Jerman 0-1 Spanyol. Meskipun tipis, tapi tidak berarti kemenangan ini diraih karena untung-untungan. Sang pencetak gol tunggal ini adalah Fernando Torres (hore! Liverpool!). Golnya cantik, menurut gue. Dia berduel dengan Philip Lahm, melepaskan tendangan yang nggak keras tapi akurat, melewati Lehmann, dan bola bergulir dengan manis ke gawang Jerman. Swiheey!
To be honest, gue mengharapkan ada gol balasan dari pihak Jerman, jadi kita bisa melihat kebangkitan Jerman dan reaksi Spanyol. Katanya kan mental juara baru bisa dibuktikan setelah tertinggal. Yah tapi overall, great match.
Sepanjang pertandingan gue ketar-ketir sendiri setiap ada serangan. Gue nggak rela gawang Iker ditembus tapi gue juga gamau Jerman kalah…hahahaha…ya jelas nggak ada yang ketemu.
Match ini cukup fair, dalam arti mereka nggak mencoba untuk menipu wasit. Okelah pelanggaran masih sering dilakukan. Namanya juga cowok dan sepakbola kan keras, kadang-kadang kelepasan juga. Ohya beberapa menit sebelum half time Iker & Ballack sempet berdebat dan dua-duanya dikasi kartu kuning. Gue nggak gitu jelas kenapa…mesti cari nanti.
Supporter Spanyol udah heboh sejak sekitar menit 84, begitu pula orang-orang di bench udah pada berdiri. Gue sih masih deg-degan. Belom berani bilang kalau Spanyol pasti juara [inget final CL ‘99]. Tapi untungnya para pemain Spanyol tetep mempertahankan konsentrasi mereka sampai final whistle.
Seneng banget [dan bangga...apa coba] melihat Iker akhirnya mengangkat piala itu. Akhirnya Spanyol juara lagi setelah 44 tahun. [Ohya ini juga faktor kenapa gue milih Spanyol. Jerman kan udah juara dunia 3 kali + juara Euro 3 kali juga. Spanyol baru juara Euro sekali. Ya tahun ini buat Spanyol ajalah
]
Rada memelas pas dikasi liat close-up Ballack. Dia cuma bengong pas para pemain Spanyol celebrating their victory. Mungkin ini Euro terakhirnya (dia udah 31 kan? Cmiiw). Beberapa kali juga ada close-up nya Schweinsteiger. Dia tampak kecewa sekali…bahkan sedikit berkaca-kaca (iya nggak sih?). Pemain Jerman yang lain juga cuma terdiam setelah dikasi medali. Nggak ada yang nangis, tapi jelas mereka kecewa dan sedih banget…cupcupcup…2 tahun lagi ada world cup kok…gue yakin mereka bisa berprestasi.
Saat ini, marilah kita larut dalam lautan merah itu…
Viva España!
P.S: Kata Steffanie, boneka ber-sweater Jerman (dinamain Mikhael Casillack) yang gue kasih ke dia meneteskan air mata…cupcupcup…
Beberapa menit menjelang kick off, gue akhirnya memutuskan untuk sedikit lebih memihak Spanyol. Kenapa? Soalnya kalau dihitung-hitung berdasarkan pemain yang gue suka dan gue sebel, hasilnya lebih plus di Spanyol. Nih coba lihat hitungannya:
Jerman:
1. Arne Friedrich +2.5
2. Michael Ballack +2
3. Michael Ballack -1.5 (main di Chelsh*t…menurut gue itu keputusan bodoh)
4. Miroslav Klose +1
5. Lukas Podolski -1
6. Per Metresacker +.5
Spanyol:
1. Iker Casillas +3
2. Fernando Torres +1 (Liverpool)
3. Xabi Alonso +1 (Liverpool)
4. Pepe Reina +.5 (Liverpool tp gaperna main di timnas)
photos
The photos from Europe are finally uploaded…
Whew…my home’s internet is soooo sloooooowwwww…
two sides
UEFA Euro 2008 Final:
Germany vs Spain
Sisi ‘cewek melankolis’ saya berkata:
- semoga Iker banyak dapet shoot on goal tapi bisa digagalin
- semoga Arne Friedrich dimainkan dari menit pertama
- semoga yg nyetak gol ganteng
- berharap Joachim Low pake kemeja yang size nya lebi gede
- semoga Podolski nggak nyetak gol
Sisi saya yang lebih rasional berkata:
- berharap kedua tim menampilkan permainan terbaiknya, terutama Spanyol semoga bermain seperti saat melawan Russia.
- berharap terjadinya fair play, sedikit kartu kuning dan tidak ada kartu merah
- berharap terjadi gol yang bagus-bagus
- dan tentunya golnya tidak kontroversial
- semoga result tidak ditentukan dari adu penalti
- may the best team wins…
sick sick sick
My sore throat has grown into influenza + migraine + fever at night.
I’ve consumed 8 troches, 1 paracetamol, and 2 teaspoons of actifed, a medicine for influenza.
It was very uncomfortable but I’m so lazy to see a doctor. Yeah. Typical. Wait until the illness is worse enough, then go and ask for meds from doctor.
But I’m quite sure that no matter how sick I am, I will still watch Euro final…ahahaha…
Promise myself to treat my body better and sleep on time after Euro
Friday, June 27, 2008, 3.46am
I have a sore throat today. My first sore throat of this year, methinks. Quite a progress. I used to have it more often. Thanks God. This time maybe because I eat too many krupuk after I got home.
My jetlag has not yet gone, or I don’t know if it is jetlag or not. My body was very tired and very sick [my sore throat usually leads to fever], but I just cannot sleep. I haven’t had a nice long good sleep since my arrival at Jakarta. Yesterday I pushed myself to watch Germany-Turkey till the end. The match was very annoying, not because the result was disappointing, but suddenly the TV screen turned blue. Thrice. And then the commentators came out and talk. Firstly I was ok, because well, you cannot expect a broadcast to be perfect all the time. But that problem made me lose the moment of 2 goals! Aaarrgh!! Suddenly when the match resumed, the score was already 2-2. I even cannot watched the final whistle moment
.
Then I woke up at 9am because of Steffanie’s call. I went out with my friends till about 4pm, then I went to Pasar Baru till my mum’s done with her work. That was the time when this sore throat got worse and worse. And here comes the fever.
But I still cannot sleep. I read two books (and four Tintin comics) and still didn’t work. I was awake until at least 11.30pm then woke up from my sleep at 2.50am. I felt a little better, and I was just really curious how the semifinal went. It was Russia versus Spain. I was sure that Spain could beat Russia, even that everybody in EURO’s official site said that Russia will win the cup. But Spain is my 2nd team in this tournament. Even though I was quite sure, I couldn’t help but feel afraid.
I always love Spain’s national team. Iker Casillas is my number one goalkeeper of all time [maybe because we share our birth date...hahaha]. But all I remember about Spain’s style was: ‘Just attack. No need teamwork. And be careful of the offside trap’. I always know they were good players, but I never thought that they can play this nice as a team. They were good when playing against Italy, but they cannot show their true form because of Italy’s famous catenaccio. I thought they won just because of luck [well of course penalty shoot out is always based on luck], but they deserve to win. Everybody could see that Spain was the one which always attack and play good football.
This dawn’s match really changed my mind. I’ve never seen such a nice teamwork from Spain’s team, at least from minute 51 [I turned on the TV right when Xavi scored the first goal for Spain]. They played offensively, but their defenders also done an amazing job. Russia only made 1 shot on goal. Spain made over 18 shots with 11 shots on goal. The final score was Russia 0-3 Spain. Yay!
Six years ago Iker made a series of tremendous saves while playing against Ireland in World Cup 2002. He was the hero. The title of Real Madrid’s and Spain’s first goalkeeper quickly awarded to him. But the years after that, both Real and Spain have done nothing but disappointing their fans, especially in Champions League. He made blunders [few of them were really stupid]. I saw him playing only twice this year in this Euro [no time to watch La Liga, also EPL is always better for me], and for me, he’s really good. Maybe these years ahead are his golden ages as a keeper (he’s 27 now). He still has a long career ahead (usually keepers ended their career in late 30s), and I hope he could lead both Real and Spain to their golden form again.
So the final will be between Germany and Spain. Two very different styles. If Spain can keep up with their level now, I think it’s not impossible for them to bring home the cup after 44 years (cmiiw). Or is it the time for the Germans?
PS: I really cannot decide which team I support in the final! May the best team wins…
Dua hari terakhir di tanah Eropa
Tanggal 23 & 24 Juni kita stay lagi di Jerman, di rumah Tante Renate. Basically yang kita lakukan sih cuma beli ini itu buat oleh-oleh terus ngecek apakah semua orang udah dibeliin ato belom. Ohya sempet naik boat keliling sungai Rhein juga. Akhirnya nemu oleh-oleh buat mami (Steffanie). Yah rada aneh mungkin ya, tapi semoga dia suka lah. Jadi oleh-oleh buat semua orang udah dibeli. Yay! Gue juga puas dengan souvenir yang gue beli buat diri gue sendiri. Dari awal gue udah niat untuk beli souvenir dari tiap negara yang gue datengin, dan keliatan jelas itu dari negara tersebut…hehehe.
Yak, jadi oleh-oleh buat Nete, Dini, Mori, Mami, dan Tepen udah kebeli semua. Gue agak bingung beli oleh-oleh buat Rhesa, tapi toh kan dia dari US dan pulangnya telat, jadi dikasi yang simpel aja deh dan semoga dia nggak inget nagih oleh-oleh…
Post yang ini ditulis di pesawat, entah lagi terbang diatas mana, tampaknya sih masih Eropa soalnya baru sekitar 1 jam setelah take off. Duh belum puas menjelajah tanah Eropa!!
No more catenaccio this Euro
Sampe di Jerman tepat pada waktunya untuk nonton Spanyol versus Italia (ini masih cerita tanggal 22juni sambungan dari Louvre). Selama Euro 2008 ini gue belom pernah nonton Spanyol, padahal gue juga mendukung mereka karena Iker Casillas dan pemain-pemain Liverpool disitu. Sebabnya, waktu yang nggak pernah pas. Pertandingan pertama Spanyol itu pas gue mau exam Prancis. Pertandingan kedua pas gue jetlag parah di Amsterdam. Malam ketika pertandingan ketiga gue harus tidur cepet soalnya mau berangkat pagi-pagi ke Brussel.
Agak kaget melihat Iker jadi kapten (walaupun dari 2 tahun lalu dia udah jadi kapten kedua). Yah meskipun gue fans-nya, tapi menurut gue dia nggak se-karismatik itu untuk jadi kapten timnas. Dia kiper jago dan cukup bisa diandalkan, pemain-pemain ngerasa tenang kalo di goalpost ada dia. Still, menurut gue dia nggak se-karismatik itu. Yasudahlah.
Gue agak khawatir dengan pertandingan lawan Italia ini. Soalnya kan Spanyol masih selalu punya masalah dengan kekompakan tim karena rasa nasionalis yang masih bersifat kedaerahan. Sebaliknya, orang Italia tampaknya punya rasa nasionalis yang tinggi. Nggak lupa Buffon kan juga jago banget, pasti susah untuk ditembus apalagi kalau kerjasama timnya nggak optimal.
Seperti biasa, gue sebel banget tiap kali Italia tanding. Sori buat yang nggak sependapat, tapi menurut gue Italia cuma menghancurkan keindahan sepakbola dengan catenaccio-nya yang terkenal itu. Bener-bener bikin kesel deh. Salut gue sama tim Spanyol yang nggak putus-putusnya nyerang dengan susah payah selama 120 menit meskipun nggak membuahkan gol.
Yah, akhirnya penalti lagi deh. Masa dari 4 pertandingan perempatfinal, 2 diantaranya diakhiri dengan penalti? Buset dah. Jantungan gue. Gue tau Iker punya rekor bagus dengan penalti. Tapi ya lawannya, Buffon, juga tangguh, dan takutnya ya ada aja pemain Spanyol yang berbuat kesalahan karena terlalu tegang atau apalah.
Rasanya lega sekali ketika penaltinya kelar. Iker kembali membuktikan kualitasnya sebagai penalty-stopper yang sulit ditembus, dan Italia tersingkir. Seneng rasanya, jadi nggak perlu liat catenaccio lagi di Euro ini.
Louvre!
Yah jadi akhirnya ternyata gue bisa ke Louvre, soalnya bis yang buat tour tiba-tiba parkir di bawah Louvre dan sopirnya bilang kita punya waktu 1 jam. 2 hari yang lalu kan bisnya juga kesitu, jadi gue uda lumayan hafal jalan ke Louvre. Langsunglah gue kiasu se kiasu-kiasunya (remember, I live in Singapore, I know what kiasu really means…hehe) jalan cepet-cepet ke Louvre. Padahal itu mesti naik sedikitnya 2.5 level, tapi kayaknya gue terlalu excited & enthu sampe gue sama sekali nggak capek waktu akhirnya nyampe di depan piramid kaca tempat entrancenya Louvre. Setelah lewat pemeriksaan tas gue juga langsung kiasu nyalip-nyalip orang di eskalator, ambil peta, terus ngantri tiket. Harganya €9 (nggak ada student price huhu..). Kalo dikurs jadi lebih dari IDR 126k. Biasanya sih darah cui langsung mengalir deras dan bikin mikir lama banget, tapi kali ini yasudahlah masa uda nyampe Paris nggak ke Louvre? Bisa nyesel bertahun-tahun…
Seperti di Van Gogh museum, di Louvre juga ada audio guide dalam berbagai bahasa. Sebetulnya itu lumayan esensial, soalnya semua keterangan di deket setiap karya seni ditulis dalam bahasa Prancis. Tapi ya gue nggak punya waktu jadi ya gue cuma mengandalkan kemampuan bahasa prancis yang luar biasa terbatas dan nebak-nebak. Setelah dapet tiket gue langsung menuju tempat patung-patung yunani. Gue emang suka patung yunani yang marble putih gitu, terus juga kan gue demen banget baca mitologi yunani pas masih kecil, jadi ya gue kurang lebih bisa tau maksud dan cerita dibalik patung-patung itu tanpa harus ngerti banget yang ditulis di keterangannya.
Dari keduabelas dewa yunani yang utama, gue paling suka Hermes (Mercury) dan Athena (Minerva). Sayang kebanyakan patung mereka disini udah nggak utuh. Disini gue paling terkesan sama patung dewi Artemis (Diana) & rusa (duh namanya lupa). Patung itu dari marble, putih, dan buat gue bener-bener menggambarkan sosok pribadi Diana yang cantik tapi tetep kuat (dia ceritanya demen berburu), proud dan angkuh. Mukanya senga’ banget, tapi memang begitulah Diana yang dipuja orang yunani zaman dulu. Hebatnya lagi, tu patung masih utuh setelah berabad-abad (kebanyakan patung di sektor ini uda nggak lengkap, bahkan kadang-kadang ilang kepalanya).
Selain dewa-dewi juga ada patung-patung pahlawan yunani, macem Heracles (Hercules), Dyomedes, makluk mistis macem centaur dan satyr, juga patung Marsyas, yang menurut legenda pernah menantang Apollo (dewa musik) untuk tanding musik. Ohya yang bikin gue bingung, patung Dyomedesnya pegang Paladium, padahal setau gue yang nyuri Paladium kan Odyseus (Ullyses). Duh bener-bener kangen oom wiki
Satu lagi yang harus cari di wiki yaitu tentang Hermaphrodite, yang katanya anak dari Hermes & Aphrodite. (Sejak kapan mereka punya anak?). Terus si Hermaphrodite ini sih digambarin sebagai cewek & biseks. Haiyah. Bikin penasaran aja ceritanya gimana.
Setelah ngeliat semua patung yunani (or at least gue pikir gue uda liat semua), gue mulai tertarik untuk ngeliat Mona Lisa. Well menurut gue sih tu lukisan bagus, tapi gue nggak ngerti apa yang bikin itu terkenal banget. Persis kayak yang diceritain Jerome, tu lukisan termasuk kecil, dipasang di 1 dinding sendiri di tengah ruangan, dilapisin kaca tebel banget, ditambah 2 lapis pembatas dan 2 penjaga di kanan kiri. Belom lagi kerumunan orang, kebanyakan turis, yang opini gue, belom tentu enthu terhadap art tapi pengen agul soalnya pernah liat & foto dgn Mona Lisa. Udah kayak acara meet & greet artis aja. Yah nggak tahu juga sih, cuma gue luar biasa kesel pas gue udah nyampe antrean paling depan dan lagi autis ngeliatin tu lukisan (berusaha mengerti apa istimewanya), di sebelah gue ada 2 oc kenalan sama 1 orang brazil, foto bareng dan NGOBROL di depan monlis. Ya ampun, sadar dong itu banyak orang yang mau liat tu lukisan di belakang dan mereka kan juga ngalangin orang-orang di belakang mereka yang mau foto. Es we te. Dasar oc.
Setelah monlis (dan masih nggak ngerti apa istimewanya), gue beranjak ke lukisan-lukisan lain, yang zaman Reinassance gitu, kebanyakan French & Italian painting. Ada beberapa yang uda pernah gue liat pas kelas ADM, such as Sermon of Saint Stephen (by Carpaccio), Bonaparte visiting the Pesthouse in Jaffa (by Antoine Gros), dan beberapa karya Eugene Delacroix, Women of Algiers, dan yang paling menarik buat gue, Death of Sardanapalus. Memang lukisan itu udah lumayan sering gue liat di lecture notes ADM, tapi ngeliat yang asli bener-bener bikin gw stunned. Lukisan itu gede banget dan entah kenapa kayak ada magnet yang bikin gue liat kesitu terus. Sempet minta tolong bapak-bapak jepang utk fotoin gue sama tu lukisan, tapi lupa matiin flash gara-gara pake macro mode! Duh, semoga nggak bikin kerusakan deh.
Yang bikin gue terpesona lagi adalah lukisan dan ukiran di langit-langit. Ada beberapa di Louvre, dan gue suka banget, meskipun gue nggak tau itu namanya apa (yah mungkin ada keterangannya tapi kan gue buru-buru jadi nggak sempet nyari).
Sebelom pulang gue sempet-sempetin ke bookshop dan beli 1 buku yang harganya termasuk murah. Sebenernya ada yang lebih murah-murah lagi macem kartu pos dan pin. Tapi masa sih ke Louvre beli kartupos, meskipun less than 1 euro? Ada katalog lengkap Louvre tapi harganya bikin bangkrut…huhuhu. Buku yang gue beli tuh semacem guide gitu yang lumayan lah. Harganya €8.50.
Balik ke bus dimarain nyokap karena kabur. Tapi yasudahlah. It’s worth all the trouble
Links:
Euro Disney
My first ever Disneyland trip! Yay! Enthu banget nih buat kesana. Toh kan gue masih 19, belom kepala 2, jadi masih boleh main-main sepuasnya…hehehe. Paket tour yang kita ambil uda termasuk tiket Disneyland, jadi setelah tiketnya dibagiin, kita tinggal naik shuttle bus gratis ke Disneyland.
Disitu ramenya gila. Banyak banget orang mulai dari turis macem kita, orang-orang Prancis yang ngajak anak-anaknya, dan ada banyak orang-orang pacaran [duh mana banyak lelaki tampan datang bersama pacarnya. Hiks!]. Satu wahana aja bisa makan waktu 1 jam lebih dari mulai ngantri sampe kelar naik. Bayangkan betapa tersiksanya gue pas harus ngeliat cowok di depan mirip Petr Čech sebelum pake helm tapi bawa pacar. Gue baru tahu belakangan bahwa ada fasilitas ‘fastpass’ [yang gratis tentunya] di wahana-wahana yang laris. Kita ngambil tiket fastpass itu terus nanti kita bisa ngantrinya pendek pada jam yang ditentukan. Jadi kita bisa jalan-jalan dulu terus balik lagi nanti.
Yah pokoknya target gue adalah untuk naik semua wahana yang tergolong “Big Thrill” alias yang seru-seru. Nggak kesampean soalnya ada 1 yang nggak sempet, tapi cukup puas sih soalnya uda naik yang menurut gue dahsyat banget, yakni space mountain. Terus ditambah lagi naik kereta, boat (ini nyokap yang mau), naik wahana pirates (yay! Yang ini settingnya keren), dan nonton Lion King musical! Ya musicalnya bukan yang beneran, of course, cuma 20 menit tapi udah lumayan banget lah. Gue sih suka banget.
Ohya gue akhirnya nemu oleh-oleh buat Tepen. Semoga lo suka deh Pen…meskipun nggak dari Jerman…hehehehe…
Pulang ke hotel shocked dengan kekalahan Belanda. Ya ampun Guus Hiddink memang luar biasa. Dia pelatih yang bagus dan profesionalitasnya dipegang teguh. Dia tetap menyiapkan timnya tampil optimal melawan negeri kelahirannya. Tampaknya Belanda butuh pelatih seperti dia, yang udah tua, berpengalaman, dan kelihatannya ‘streng’. Van Basten agaknya butuh menimba ilmu kepelatihan lagi.
Tapi gue sih cukup seneng di pertandingan ini, soalnya menurut gue Rafael (van der Vaart) main bagus. Gue tahu dia pas dia masih 17 ato 18 tahun di Ajax. Katanya sih waktu itu calon bintang besar Belanda, yang sampe dibandingin sama Cruyff. Gue sih percaya dia bakal jadi pemain hebat, melebihi ‘temen seangkatannya’ macem van Persie dan Sneijder. Inspirasi pertama nama calon anak gue adalah dia. Gue sangat terkesan dengan permainannya kemarin. Semoga Belanda segera diberkati dengan pelatih yang mampu membina timnas mencapai level terbaiknya, dan semoga Rafael diberi kesempatan untuk membuktikan kualitasnya.