music and me

March 24, 2008 at 4:58 pm | In just a girl, melwood |
Tags: , ,
Thank you for the music
the songs I’m singing
thanks for all the joy they’re bringing
who can live without it?
I ask in all honesty
what would life be?
without a song or a dance
what are we?
so I say
thank you for the music
for giving it to me

ABBA - Thank you for the music

Pengalaman musik saya dimulai ketika masih kanak-kanak. Seperti umumnya ibu-ibu kelas menengah di Jakarta, mama saya memasukkan saya ke sekolah musik. Dan seperti pada umumnya pula, ia ingin anaknya bisa memainkan piano.

Sayangnya, saya bukan pemain piano. I really hate those piano times! Passion saya lebih ke string instrument, dan saya ingin sekali waktu itu belajar memainkan biola. Seperti pada umumnya orang tua, mama saya merasa dialah yang tahu apa instrumen terbaik buat saya. Anak yang penurut dan plegmatis seharusnya mengikuti saja dan mempelajari piano lagi.

Sayangnya (lagi), saya bukan anak seperti itu. Kebencian saya pada piano makin tumbuh dan tumbuh, selama tahun tahun dimana saya dipaksa untuk mempelajarinya. Sampai sekarang, saya masih memendam rasa itu, sejujurnya. Sampai sekarang saya tidak mau menonton konser piano. Ketika piano digabung dengan instrumen lain, barulah saya bisa menikmatinya.

violin_player_for_weddings.jpgSaya masih menyesali keputusan mama saya ketika itu. Itu adalah tahun tahun produktif saya, yang seharusnya jika dipakai untuk menanamkan dasar musik yang baik, pasti akan bertahan lama. Saya baru berhasil melepaskan diri dari piano bertahun-tahun sesudahnya. Sekitar setahun setelah ‘menang’ dari les piano, saya belajar biola.

Biola adalah alat musik yang saya impikan. Suaranya indah, dan saya benar-benar takjub mengetahui alat sekecil itu bisa menghasilkan sekian banyak nada. Namun tampaknya, sudah terlambat untuk saya mempelajari biola. Usia saya ketika itu 13 atau 14 tahun kalau tidak salah. Usia SMP. Saya katakan sudah terlambat karena, masa-masa SMP adalah masa yang cukup berat bagi setiap anak. Lingkungan SD sangatlah santai, dan sekarang di SMP seorang anak harus berjuang menempuh masa remajanya dan belajar menjadi dewasa. Singkat kata, saya tidak punya banyak waktu untuk mempelajari alat musik yang sangat rumit seperti biola.

marchingsd.jpg

Perkenalan saya dengan alat musik perkusi dimulai di lingkungan Marching Band, yakni Putri Santa Ursula Marching Brass dimana saya menjadi anggota dari 2001-2007. Buat saya, perkusi sangatlah enjoyable. Meskipun range suaranya cukup terbatas (kala itu saya memainkan snare drum), saya sangat menikmatnya. Dan mungkin perkusi juga cocok dengan personality saya yang tidak terlalu halus serta ketidakmampuan saya untuk mengenali nada, sehingga saya lebih menguasai alat musik ritmis. Di seksi perkusi PSUMB, saya cukup berbakat, kalau boleh sombong 8) . Saya bisa beradaptasi dengan cepat ketika pindah dari snare ke multi toms. Dalam dua minggu saya sudah bisa memainkan lagu yang cukup rumit dan cepat temponya. Saya juga pernah bermain bass drum ketika harus menggantikan seorang pemain dan menurut saya, I’ve done a pretty good job. Wah kayaknya sudah kebanyakan sombongnya… :-D

Saya terpaksa mengurangi frekuensi bermain musik saya secara drastis ketika saya harus mempersiapkan diri mengikuti tes masuk NTU. Saat saat itu benar benar luar biasa hectic. Boro-boro bermain musik, bahkan waktu sekolahpun sering kami korbankan demi belajar A level. Begitu pula saat saya tiba di Singapura, saya benar-benar tidak ada waktu untuk bermain musik. Dan juga, karena saya tinggal di hall (asrama), sangatlah mengganggu jika saya berlatih di kamar. Les musik di Singapura sangat mahal, dan biasanya di tengah kota, sedangkan NTU ada di ujung barat Singapura.

Di Singapura, saya lebih menjadi penikmat musik. Sayangnya, konser-konser musik disini, meskipun bagus, tapi mahal. Satu satunya kegiatan bermusik yang saya lakukan di NTU adalah mengikuti paduan suara (choir). Saya sangat menikmatinya. Choir ini juga membuat saya berpikir untuk lebih mengeksploitasi suara saya.

Menjadi pemain ataupun sekedar penikmat, musik tetap menjadi bagian penting dari hidup saya.

Musik itu kebutuhan jiwa
Musik membuat telinga mendengarkan keindahan
Merasakan harmoni
Menikmati keajaiban yang terpancar dari getaran udara

“Ah music, a magic beyond all we do here!”
kata Albus Dumbledore, ketika Harry Potter memasuki sekolah sihirnya, Hogwarts, untuk yang pertama kali.

Musik tak mengenal batas budaya
tak mengenal batas ras
tak mengenal batas bahasa
untuk dapat dinikmati

Anda tidak perlu menjadi seorang perfect pitch
ataupun seorang konduktor profesional
ataupun seorang pianis kelas dunia
ataupun seorang komposer pemenang Grammy
ataupun seorang penyanyi dengan suara semerdu malaikat
untuk dapat menikmati musik

Musik
keajaiban yang nyata

Musik
anugerahNya yang tak ternilai harganya

Thank you for the music

No Comments yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.